• Cleanomic

5 Sustainable Fashion Brand yang Bisa Mulai Dilirik!

Diperbarui: Jun 1

Mengurangi sampah bukan cuma pada makanan aja, tapi juga fashion. Mulai bilang “nggak makasih” saat kasir bertanya mau gunain plastik, bisa jadi langkah yang baik. Tapi, sekarang coba lakukan lebih dari itu. Yaitu, mulai memilih brand yang memliki kampanye “sustainable fashion”, yang artinya proses produksi sampai ke tangan konsumen apakah ramah lingkungan, transparan dalam pemilihan bahan, dan menyejeterahkan pekerjanya.

Mau mulai belanja? Berikut pilihannya!

Everlane


View this post on Instagram

It’s outerwear with an outlook. #ReNewToday – Link in bio to waitlist.

A post shared by Everlane (@everlane) on Oct 19, 2018 at 9:00am PDT


Suka sama gaya yang lebih basic? Bisa coba intip koleksinya brand asal California, Amerika Serikat ini. Everlane yang sudah muncul sejak tahun 2010 memang sudah dikenal dengan brand yang transparan. Jadi pembeli tahu, di mana pabriknya dan harganya sesuai dengan uang yang mereka keluarkan. Secara gaya, memang tidak ada yang baru. Tapi, tidak begitu dengan inovasi dengan kampanye mereka.

Di musim dingin 2018 lalu, mereka mengeluakan koleksi jaket yang dibuat dari 3 juta sampah botol plastik, bernama Puffy Puff dengan beragam warna yang cantik. Nggak cuma di produknya aja, dalam rilis yang dibuat oleh CEO dan founder mereka, Michael Preysman, Everlane juga akan menghentikan pengguaan plastik di kantor-kantor mereka. Keren banget, ya!

Linean


View this post on Instagram

All our pieces are made from Linen fabrics, to keep you comfort in the sunny weather. #linenbylinean

A post shared by Linean (@lineanofficial) on Nov 6, 2018 at 7:49pm PST


Suka pakaian dari brand lokal namun ramah lingkungan? Cek Linean ya! Konsep slow fashion movement yang Linean canangkan adalah hal yang Linean bawa dalam bisnis fashionnya ini. Konsep tersebut menentang konsep pabrikan fashion besar di dunia yang tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya dan juga dengan memakai bahan dari serat tanaman rami, yaitu linen. Bukan hanya bahannnya aja, limbahnya pun tetap diperhatikan, misalnya ada sisa bahan potongan akan dibuat menjadi aksesoris seperti tempat sedotan logam, totebag, atau tempat make up. Jadi, tidak hanya sisi fashion dan desain saja yang diperhatikan namun juga bagaimana caranya sisa bahan agar tidak cuma terbuang percuma. Linean memproduksi berbagai outfit seperti atasan, outerwear, celana, totebag, tempat sedotan, dan juga tas make up.

Stella McCartney


View this post on Instagram

The new #StellaKids campaign is a reminder that our plastic consumption is hurting the animals that call our oceans home, with the help of The Unhappy Fish and his friends. In honour of #WorldOceansDay, help keep our seas plastic free!⁣ ⁣ Watch the full film now on #StellasWorld!

A post shared by Stella McCartney (@stellamccartney) on Jun 8, 2019 at 11:30am PDT


Mau lirik koleksi baju yang branded? Kamu bisa cek dulu koleksi dari anak Paul McCartney ini. Stella McCartney adalah pioneer sebelum eco-friendly fashion jadi tren seperti sekarang. Sejak 2001 dia tidak menggunakan kulit dan bulu hewan untuk koleksinya. Walaupun banyak yang skeptis, tapi dia tetap melaju sampai sekarang. Malah banyak pihak yang mau kerja sama dengan perempuan yang juga vega ini. Selain sama Adidas, baru-baru ini Stella bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan piagam untuk mengajak industri fashion lebih ramah terhadap lingkungan. Inspiring sekali!

Allbirds


View this post on Instagram

As part of our commitment to carbon neutrality, we’re offsetting the emissions it took to make your shoes! Every time you place an order online or stop by one of our stores, we’ll be asking you to help us decide what projects we should invest in to take CO2 out of the atmosphere. Check out the link in our bio to learn more about the different areas we’ll be focusing on! #weareallbirds

A post shared by Allbirds (@allbirds) on Apr 23, 2019 at 8:00am PDT


Kamu cari sepatu yang baik untuk lingkungan? Brand sepatu dari New Zealand ini, Allbirds, membuat sepatu sneakernya dari wool loh! Seperti salah satu sepatu unggulannya yang tanpa plastik terbuat dari wool merino, plastik daur ulang, dan minyak biji jarak. Semua produsen wool merino selaku supplier untuk Allbirds telah melalui standar dari ZQ, selaku perusahaan yang mencakup kumpulan petani di New Zealand dengan aturan yang ketat. Allbirds juga memproduksi sepatu yang terbuat dari tencel lyocell, yaitu bubur dari pohon eucalyptus yang dibuat menjadi serat. Tencel lyocell merupakan materi yang tak hanya biodegaradable tetapi juga dapat didaur ulang hingga 99% dari larutan kimianya. Semua kemasan juga dibuat dengan bahan daur ulang, kotak terbuat dari 90 persen kardus daur ulang paska konsumen. Kotak-kotak ini berfungsi sebagai tas belanja, surat, dan kotak sepatu semuanya dalam satu. Cool, right?

Patagonia


View this post on Instagram

This is Eliza Perry. She’s had this jacket for about five years now and it’s been around the world with her. So, when she got into an accident traveling in Sa Pa, Vietnam she wasn’t going to easily part with her jacket. Eliza crossed paths with us this past January on a @wornwear tour where she told us the story of losing a tooth and more than a few feathers from her jacket when she was in a motorbike crash. Here is the finished result. Wear it well Eliza! ⠀⠀ You can track down #wornwear out on the East Coast right now. They’ve got three more stops, repairing clothing and wetsuits through the month of June. Photos: @kernducote

A post shared by Patagonia (@patagonia) on Jun 15, 2019 at 7:34am PDT


Nah, untuk kamu yang hobi beraktivitas di luar, brand Patagonia tepat banget untuk brand yang mencanang sustainability berbagai olahraga luar ruangan, perjalanan, dan pakaian sehari-hari. Sejak 1985 Patagonia telah berkomitmen untuk menyumbangkan 1% dari penjualannya kepada organisasi lingkungan di seluruh dunia yang bekerja untuk melestarikan dan memulihkan lingkungan alam. Sejak mulai mendukung 1% pendapatan untuk Planet, Patagonia telah menyumbang lebih dari $46 juta dalam program donasi. Tujuan utama Patagonia adalah untuk menutup lingkaran pada siklus hidup produk-produknya. Seperti yang disebutkan sebelumnya dengan kampanye “Buy Less” Patagonia, perusahaan mendorong pelanggan untuk membeli lebih sedikit, termasuk menolak untuk membeli dari produk Patagonia yang tidak mereka butuhkan. Patagonia juga memiliki konsep “Reduce, Repair, Reuse, Recycle, Reimagine.” yang menawarkan konsumen untuk memperbaiki pakaian Patagonia mereka di stasiun reparasinya. Ada pula inisiatif Common Threads, yaitu kemitraan dengan Patagonia dan pelanggan mereka untuk membeli dan menggunakan pakaian secara lebih berkelanjutan.

Jadi, dari ke-5 brand fashion di atas apakah ada yang menarik perhatianmu?

#pollution #Yukkurangisampah #sustainableliving #earthfriendly #blog #plasticwaste #sustainability #lesswaste #zerowaste

39 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua