• Cleanomic

Carbon Neutral dan Carbon Negative

Diperbarui: Nov 10

Pernah ga dengar istilah bahwa suatu perusahaan telah mencapai status carbon neutral atau carbon negative? Sebelum cerita tentang itu, kita bahas dulu tentang dampak karbon di dunia yah.


Kecenderungan manusia untuk memperoleh hidup yang nyaman telah berdampak buruk terhadap bumi ini. Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah batas karbon di atmosfer telah melebihi batas aman sejak 2 tahun lalu. Hampir sebagian besar aktivitas manusia berkontribusi dalam peningkatan emisi karbon di atmosfer. Tak main-main, dampak yang ditimbulkan sangat mengerikan. Penelitian terakhir menyatakan bahwa jika emisi karbon tidak dikurangi maka pada tahun 2100, suhu global akan meningkat kemungkinan lebih dari 8 derajat celcius. Setiap kenaikan 1 celcius akan meningkatkan resiko kerugian–baik karena kerusakan properti maupun ekosistem.


Indonesia sendiri menempati posisi ke-3 sebagai penyumbang emisi karbon terbesar setelah USA dan China. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya peningkatan suhu rata-rata bumi adalah membatasi emisi karbon dan mendesak pemanfaatan energi bersih sesuai dengan yang dimandatkan oleh Kesepakatan Paris dan yang sudah dijadikan UU nomor 16/2016. Para perusahaan negara tetangga semakin sadar akan perlunya bertindak sekarang untuk mengurangi total output karbon mereka dengan menerapkan berbagai istilah seperti karbon negatif dan karbon netral.


Dua istilah ini merupakan upaya efektif untuk memberantas perubahan iklim. Microsoft telah berkomitmen untuk menjadi karbon negatif pada tahun 2030. Perusahaan ini mengumumkan inisiatif baru untuk menggunakan teknologi Microsoft guna membantu pemasok dan pelanggan mereka di seluruh dunia untuk mengurangi jejak karbon mereka sendiri. CEO Amazon Jeff Bezos berjanji untuk membuat perusahaan netral karbon pada tahun 2040. Nah sayangnya, istilah-istilah ini belum disampaikan utusan Indonesia dengan baik sehingga masih sedikit perusahaan di Indonesia yang mengadopsinya.


Apa sih sebenarnya definisi karbon netral dan karbon positif?


Karbon netral berarti emisi karbon yang dipancarkan ke atmosfer secara efektif diseimbangkan, dengan menghitung jejak karbon dan mengurangi jumlah yang setara dalam kegiatan lain hingga mencapai emisi nol. Kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, salah satu diantaranya dapat dengan penanaman pohon. Penyeimbangan emisi karbon juga dapat dilakukan dengan tidak memancarkan emisi karbon sama sekali misalnya bersepeda daripada menyetir mobil.


Adapun istilah karbon negatif yang mengambil langkah lebih jauh dibandingkan karbon netral dengan menciptakan jejak karbon negatif. Perusahaan karbon negatif menghilangkan lebih banyak karbon daripada menghasilkannya. Sebagai contoh, IKEA–perusahaan peritel perabot rumah tangga–berkomitmen menjadi perusahaan karbon negatif dengan melakukan investasi 200 juta euro untuk membantu pemasok beralih ke sustainable energy dalam produksi serta mendukung pengelolaan hutan dan memulihkan lahan terdegradasi.

Nah, sudah jelas bukan perbedaannya? Pada dasarnya, kedua konsep ini sebenarnya memiliki tujuan yang selaras yaitu mereduksi jejak karbon. Tentunya langkah awal untuk memulai adalah berkomitmen penuh dalam rencana reduksi karbon yang seharusnya sudah menjadi tanggung jawab, bukan hanya sekedar kegiatan sukarela. Komitmen ini kemudian akan dilanjutkan dengan langkah berikutnya yaitu menghitung estimasi jejak karbon perusahaan. Jejak karbon tidak hanya terkait dengan operasi dan produksi langsung. Terdapat juga emisi tidak langsung, yaitu emisi dari sumber di luar pengaruh langsung perusahaan dan operasinya. Ini termasuk yang dari rantai nilai perusahaan dan perusahaan pendukung, yang juga mempengaruhi keberlanjutan keseluruhan perusahaan.


Mau tau lebih dalam mengenai jejak karbon? Berikut tautan artikel cleanomic yang bisa dijadikan referensi lebih lanjut (klik disini dan disini)


Setelah mengetahui jejak karbon, step selanjutnya yang paling krusial adalah action.  Apa saja yang harus dilakukan untuk melenyapkan jejak karbon tersebut? Setiap perusahaan memiliki cara yang berbeda-beda tergantung pada jejak karbon mereka masing-masing. Bisa saja melalui investasi teknologi berenergi efisien, bisa saja menggunakan renewable energy, mereduksi sampah, dan masih banyak cara lainnya.

Untuk mengklaim gelar karbon negatif, perusahaan juga harus menghilangkan sejumlah karbon yang sudah ada di atmosfer. Aksi ini akan memastikan bahwa total karbon yang dihilangkan oleh suatu perusahaan lebih besar daripada total karbon yang dihasilkan kegiatannya.


Ada beberapa cara simpel yang dapat diterapkan sebagai upaya untuk mengurangi jejak karbon perusahaan:


Ikuti prinsip 3R


Reduce, Reuse, and Recycle. Tak asing lagi, prinsip yang telah terdengar begitu sering di telinga kita. Prinsip ini bisa dijadikan strategi untuk membatasi dampak perubahan iklim. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang menjadi sampah, Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan, dan Recycle berarti daur ulang sampah menjadi produk bermanfaat lainnya. Ketika tidak ada yang bisa dikurangi ataupun digunakan kembali dalam perusahaan Anda, gencarkan pada R ketiga yaitu Recycle. Sekarang ini, sudah banyak mitra usaha daur ulang yang dapat diajak bekerja sama untuk memudahkan proses daur ulang agar sampah tidak tertimbun di landfills.


Investasi energi terbarukan


Mengingat fenomena perubahan iklim, energi terbarukan telah menjadi trending global di dunia. Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan Indonesia yang memiliki potensi yang cukup besar dalam menghasilkan energi terbarukan, misalnya tenaga bio dapat menghasilkan tenaga listrik sebesar 700 GW. Investasi untuk menggunakan energi terbarukan dapat dijadikan demonstrasi komitmen perusahaan terhadap perbaikan lingkungan seperti udara yang bersih, kedekatan dengan alam, dan mengurangi emisi gas rumah kaca.


Edukasi diri sendiri, tenaga kerja, dan konsumen perusahaan Anda


Mencegah perubahan iklim merupakan tanggung jawab semua, tidak bisa hanya dilakukan orang seorang diri. Maka dari itu, ilmu mengenai perubahan iklim tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Seluruh sumber daya manusia yang terlibat perlu dibekali ilmu seputar perubahan iklim, baik dari informasi pengurangan karbon secara umum, kebijakan perusahaan, maupun informasi dan petunjuk praktis menurunkan jejak karbon untuk setiap posisi personel di perusahaan. Penjelasan kebijakan yang diterapkan oleh perusahaan dalam mengurangi emisi karbon perlu juga diinformasikan kepada konsumen agar dapat menambah kesadaran dan menstimulasi aksi konsumen dalam mengurangi emisi karbon di bumi.


Mendukung upaya reduksi karbon baik di lingkup perusahaan maupun di luar perusahaan.


Manfaatkan lahan yang ada untuk mengurangi karbon, seperti menanam pohon, atau mendukung upaya masyarakat sekitar atau terdampak kegiatan perusahaan dalam mengurangi karbon, seperti donasi blue carbon.


Setiap perusahaan mempunyai jenis aktivitasnya sendiri-sendiri, dan pasti punya tahapan dan tantangannya masing-masing sehingga perlu pendalaman khusus untuk mengetahui jenis kegiatan yang bisa mendorong perusahaan menuju perbaikan dalam jejak karbonnya. Tapi dengan langkah yang tepat, kebijakan mengurangi jejak karbon perusahaan biasanya menarik untuk para pencari pekerjaan, dan meningkatkan minat konsumennya juga. Namun juga, langkah pengurangan jejak karbon perusahaan juga tetap perlu diterapkan dalam kerangka Good Corporate Governance sebagai koridor business ethic perusahaan.


Nah, nasib masa depan bumi ada di tangan kita. Yuk! Singkirkan kebiasaan buruk dan mari kita bersama-sama jaga dan rawat bumi ini dengan lebih bijak dalam berbisnis! Mulailah mengurangi jejak karbon kita sekarang.

Karena.. kalo tidak sekarang, kapan lagi?


Referensi: https://solarpowermanagement.net/article/111038/Carbon_Neutral_Vs_Carbon_Negative_What’s_The_Difference https://www.greenamerica.org/blog/9-ways-small-business-can-reduce-carbon-emissions


Catatan editor:


Artikel ini merupakan hasil kontribusi dari Sylvia, salah satu volunteer cleanomic.  Saat ini, Sylvia adalah mahasiswa jurusan biologi di Universita Gajah Mada tingkat kedua.  Kalau tertarik untuk reach out ke Sylvia bisa kontak melalui akun linkedin-nya yah!

6 tampilan

©2020 by Cleanomic