top of page

Potensi Krisis Finansial Akibat Krisis Iklim

Diperbarui: 6 Des 2023



Perubahan iklim pada saatnya nanti akan berimbas ke berbagai sektor kehidupan, termasuk ekonomi dunia. Hal ini dikarenakan, sistem finansial modern dibangun berdasarkan asumsi bahwa iklim bumi selalu stabil. Padahal, dampak perubahan iklim sudah mulai dirasakan masyarakat di berbagai belahan dunia. Yuk, simak apa saja yang harus kita cermati seputar krisis iklim dan ekonomi dunia.


Apa itu Carbon Bubble?

Istilah carbon bubble merujuk pada kondisi dunia yang tengah serius bertransisi ke ekonomi rendah karbon. Hal ini berarti para investor mulai meninggalkan portofolio berbasis bahan bakar fosil dan fokus pada investasi yang lebih ramah lingkungan. Nah, perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di bidang ekstrasi, pengolahan dan pengangkutan bahan bakar fosil akan rentan terhadap risiko aset terdampar (stranded assets). Artinya, aset atau harta perusahaan tidak lagi berharga. Aset terdampar ini sebenarnya mampu menyerap modal, tapi tidak bisa dipakai buat menghasilkan keuntungan. Bentuk aset terdampar ini bisa berupa aset produksi atau cadangan sejenis lain yang tidak dapat direalisasikan, atau pun berbentuk teknologi yang dihentikan sebelum umur ekonomisnya habis.

Tahun 2023, Carbon Tracker merilis bahwa nilai total aset terdampar global bisa mencapai 15 triliun dollar AS dan jumlah ini dapat menyebabkan ekonomi global dalam posisi bahaya.



Apa yang Terjadi Jika Carbon Bubble Meledak?


Para investor yang menaruh uang mereka di perusahaan batu bara, kendaraan konvensional, dan sumur minyak akan terkena imbasnya. Dalam artian, modal yang mereka keluarkan untuk membangun bisnis tersebut tidak bisa menghasilkan return sehingga dapat menyebabkan bisnis-nya collapse dan mencetak banyak pengangguran di sektor produksi bahan bakar fosil dan industri-industri terkait. Jika carbon bubble meledak tiba-tiba, bukan kempes secara bertahap selama beberapa dekade, dunia akan menghadapi krisis finansial.

Meskipun ada bayang-bayang risiko cukup besar yang mengikuti di belakang, hasil riset BRINK setelah lebih dari 10 tahun berlalu sejak riset pertama di tahun 2011 menyebutkan, investasi ke produksi bahan bakar fosil justru mengalami peningkatan. Padahal ada kemungkinan besar bahwa sebanyak 90% bahan bakar fosil ini akan tetap berada di dalam tanah. Artinya, tidak akan dibakar, tidak akan dipakai, sebagai komitmen global untuk menjaga suhu bumi tidak semakin panas.


Jadi, pihak yang diuntungkan adalah perusahaan-perusahaan atau negara yang berinvestasi besar-besaran pada energi terbarukan, seperti negara-negara Uni Eropa yang telah lebih awal menerapkan ekonomi rendah karbon. Sementara itu, negara-negara Timur Tengah atau Rusia yang perekonomiannya bergantung pada bahan bakar fosil harus melakukan diversifikasi.


Apalagi kabarnya, Uni Eropa akan merilis kebijakan baru terkait pemberlakuan pajak karbon atas impor serta memberikan insentif bagi perusahaan dalam negeri yang berhasil dalam pengurangan emisi karbon. Meskipun, sampai saat ini, rencana kebijakan pajak karbon ini ditentang keras oleh negara-negara lainnya, termasuk Indonesia. Sebab dianggap menyalahi aturan WTO.

Dua negara besar yakni Amerika Serikat dan Kanada diperkirakan akan terdampak resiko meletusnya carbon bubble, mengingat produksi gas dan minyak nonkonvensional mereka yang berbiaya tinggi. Keduanya rentan akan penurunan permintaan maupun harga bahan bakar fosil.


Upaya Biden Melindungi Sistem Finansial Amerika Serikat dari Perubahan Iklim


Menurut Environmental Protection Agency (EPA), efek perubahan iklim semakin terasa di Amerika Serikat yang ditandai dengan adanya kekeringan, kebakaran hutan dan banjir akibat kenaikan permukaan air laut.

Pasar asuransi telah merasakan dampak dari bencana-bencana alam yang lebih parah. Di California, perusahaan asuransi menolak menanggung rumah-rumah di area rawan kebakaran. Beberapa bank juga mewajibkan pembayaran di muka sebesar 40% untuk rumah-rumah yang terletak di pesisir pantai. Hal ini mengindikasikan mereka tidak ingin dananya terlalu dalam risiko. Tak hanya itu, bank-bank mulai menjual hipotek rumah pesisir pantai ke pihak-pihak yang mendapat backing pemerintah seperti Freddie Mac dan Fannie Mae.


Dalam skala lebih luas, perubahan iklim bisa mengganggu aspek-aspek krusial ekonomi seperti infrastruktur, agrikultur dan rantai pasok makanan. Iklim yang tidak jelas, lebih panas dan lebih lembab, berpotensi mengakibatkan kerugian pascapanen di lahan pertanian. Gelombang panas dan banjir sebagai kejadian iklim ekstrem juga berdampak negatif menimbulkan wabah penyakit dan menurunkan sistem kekebalan hewan ternak hingga berakibat kematian.


Belum cukup sampai di sana, cuaca ekstrem maupun kenaikan permukaan air laut dikaitkan juga dengan kerusakan basis militer, hingga sistem komunikasi.


Untuk mengantisipasi dampak buruk perubahan iklim pada sistem finansial AS, Presiden Joe Biden membentuk Executive Order on Climate-Related Financial Risk pada 2021. Tujuannya adalah mengetahui bagaimana perubahan iklim memengaruhi program dan aset pemerintah.

Presiden Biden juga meminta Dewan membuat rekomendasi dalam waktu 6 bulan terkait langkah-langkah mengurangi risiko atas perubahan iklim. Di dalam perintah Biden, pihak perbankan dan pemberi pinjaman hipotek diharuskan menanamkan modal di bidang energi bersih (clean energy). Sementara itu, perusahaan investasi wajib menyampaikan risiko perubahan iklim pada dana pensiun dan tabungan.

Apa yang bisa kita lakukan?


Transisi ke ekonomi rendah karbon akan mendatangkan banyak keuntungan mulai dari udara bersih, kesehatan yang lebih baik, iklim yang kondusif, bahkan diperkirakan transisi ke clean energy akan menciptakan 30 juta lapangan pekerjaan.


Jadi, yuk mulai pelajari lebih lanjut ekonomi hijau alias #cuanlestari yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dari mulai memilih barang untuk konsumsi sehari-hari, tempat kamu bekerja, hingga pillihan investasi kamu.


Kita juga bisa ikut andil dalam transisi ekonomi rendah karbon dengan memilih politisi yang pro terhadap kebijakan emisi rendah karbon, jadi kita harus siap-siap dari sekarang untuk mempelajari hal apa yang bisa diusahakan oleh seorang caleg terhadap kebijakan lingkungan.


Simak juga nih webinar dari Universitas Indonesia yang membahas persiapan Ekonomi Hijau di Indonesia.

Kira-kira apa lagi yah yang menurut kamu bisa kita lakukan untuk persiapan menuju renewable energi? Tidak sabar untuk kehidupan yang lebih baik!


Akses lebih banyak info, berita, dan cerita seputar #cuanlestari dan hidup berkelanjutan lewat website Cleanomic dan follow instagram kami di @cleanomic ya!


Sumber:



70 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

コメント


bottom of page