top of page

Second and Earth (SAE) : Mencintai Lingkungan Lewat Bisnis Thrift & Consignment

Diperbarui: 12 Des 2023



Fenomena thrifting dan fast fashion semakin populer di Indonesia dan menjadi daya tarik bagi konsumen yang ingin mendapatkan pakaian dengan kualitas bagus dan harga yang miring. Namun, dibalik harga murah, fast fashion punya dampak yang merugikan terutama terkait kesejahteraan para pekerja dan limbah produk yang dihasilkan. Sementara itu, maraknya baju thrifting import yang ilegal juga merugikan negara, konsumen juga harus pintar-pintar memilih, karena tidak ada jaminan bahwa baju yang dibeli tidak ada kerusakan atau deffect. Padahal, thrifting ini salah satu gerakan yang bagus untuk lingkungan, lho. terus gimana ya solusinya? 


Nah, ngomong-ngomong soal thrifting, Cleanomic mau kenalin salah satu pelaku bisnis thrifting yang quality check-nya oke banget nih, semua baju yang dijual telah dikurasi dengan baik, jadi sudah pasti tenang deh belinya. yuk kenalan sama Kartika, founder dari @SecondandEarth dan simak ceritanya memulai bisnis thrifting and consignment yang sangat menginspirasi. 


Dulunya Kartika hobi banget belanja baju. Mulai dari baju ngantor sehari-hari sampai weekend outfit buat hang-out, yang ia anggap sebagai retail therapy, untuk melepas stress! Sebagian besar baju-baju itu cuma ia pakai sekali-dua kali. Banyak pula yang belum pernah ia pakai sama sekali, karena ternyata nggak pas di badan. Sering kali ia juga membeli dua ukuran yang berbeda untuk baju yang sama, jaga-jaga saja kalau ukurannya terlalu besar atau terlalu kecil karena belinya online.


Kartika sempat menjual bajunya yang tidak terpakai karena merasa lemarinya penuh, tapi karena kesibukan kerja, akhirnya dia berhenti. Tapi tetap saja kebiasaannya membeli baju tetap berlanjut. 


Suatu hari, ia nggak sengaja nonton dokumenter pendek di youtube yang menjelaskan tentang industri fast fashion dan jadi nontonin video-video lainnya seharian, cari informasi, googling, sampai telepon saudaranya yang kebetulan sekolah design & fashion untuk diskusi lebih lanjut. 


Hari itu, ia nangis parah bukan karena nonton drama, tapi karena shock, marah dan denial. Lalu nyesel banget se-nyesel-nyeselnya karena merasa menjadi salah satu dari jutaan konsumen yang ‘tidak peduli’ sebelumnya. Dulu, ia berpikir, ia bisa dengan mudah membeli baju baru kapan saja terutama saat outfit haul!


Memulai Second And Earth (SAE)


Kesadaran Kartika akhirnya membuat ia berkomitmen untuk pakai baju yang sudah ada dan cari ke secondhand dulu, kalo butuh outfit baru. Kalau benar-benar butuh beli baju baru, ia akan cari brand yang transparan dengan material-sourcing dan supply-chain mereka, meskipun biasanya harganya jauh lebih mahal.


Pada September 2020, di tengah pandemi yang tampak tak berujung waktu itu, ia membulatkan tekad untuk memulai sebuah usaha thrift & consignment yang bertujuan menjualkan pakaian yang tidak terpakai dari Consignors (pemilik) ke Thrifters (pembeli). Bersama saudaranya yang kebetulan juga kembali ke Indonesia karena pandemi saat itu, kita membangun SAE dengan modal seadanya.



Sistem SAE adalah titip-jual (consign). Para pemilik baju yang menumpuk, tidak terpakai namun masih layak digunakan dan ingin declutter tapi nggak sempat mengurus prosesnya. Caranya juga mudah. Pemilik baju cuma perlu kirim ke SAE, nantinya baju itu akan dikurasi dan dinilai sesuai kondisi barang. Pihak SAE juga akan bantu untuk packing dan kirim. setiap baju yang terjual, payout-nya akan di-transfer dari baju-baju yang terjual dikurangi komisi SAE.

Selama membangun SAE, menurut Kartika, nggak sedikit yang memandang sebelah mata usaha ini, pertanyaan seperti “Emang ada yang mau beli baju bekas?” dan “Oooh thrift...why?” sering ia dapatkan terutama dari generasi baby boomers dan beberapa millennials yang masih belum peduli dengan krisis iklim. Di satu sisi ia sedih tapi di sisi lain, ia juga paham, nggak semua orang aware akan industri fashion, dampak fast-fashion, kerusakan alam, dan lain-lain. 


Salah satu misi SAE adalah menormalkan memakai dan membeli secondhand. Thrifting adalah hal yang baik selama tidak dilakukan berlebihan. SAE ingin menyebarluaskan conscious fashion sambil berbisnis yang dapat menjadi solusi limbah, bukannya malah nambahin!


Banyak juga yang ngedukung bisnis SAE sepanjang perjalanan ini, terutama dari para Consignors & Thrifters. Ia bangga saat melihat SAE pelan-pelan makin bertumbuh dan jadi bisnis yang sustainable, nggak hanya dari segi lingkungan dan sosial tapi juga ekonominya. Saat ia melihat postingan Cleanomic yang ngasih kesempatan buat sharing cerita #CuanLestari, ia jadi ingin ambil bagian. 


Saat ini, ia terus berusaha untuk mengembangkan SAE supaya bisa berkontribusi lebih besar lagi. menurutnya “The bigger we are, the bigger our impact will be! We welcome everyone who wants to contribute in any way, baik sebagai Consignor, Thrifter, ataupun usaha profit/non-profit yang sejalan dengan visi dan misi SAE!” 


Nah, menarik banget kan cerita Kartika? untuk tahu lebih banyak, kamu bisa follow Second and Earth di Instagram : @secondandearth. Kalau tertarik beli baju thrifting yang high quality dengan konsep packing yang zero waste, kamu juga bisa langsung mampir di marketplace mereka: Shopee @secondandearth atau Tokopedia by request @secondandearth. Oh iya, mau kolaborasi juga boleh banget! sapa saja di email secondandearth@gmail.com.


Segera manfaatkan peluang biar baju di lemarimu bisa menguntungkan dan jadi #CuanLestari! 



Sumber: 

(Trigger Warning: video may contain explicit graphic of death)


86 tampilan0 komentar

Comentarios


bottom of page