• Cleanomic

Thrift & Consignment for #CuanLestari


Editor note: Di fitur #ShareYourStory kali ini, Kartika founder dari @SecondandEarth berbagi cerita memulai bisnis thrifting and consignment. Sebagai orang yang dulu pernah obsessed sama salah satu merek fast fashion lokal - literally obssesed karena tiap hari mantengin websitenya dan hapal jadwal mereka upload koleksi baru tiap minggu dan tiap minggu pula beli baju baru!!!!) - aku bisa relate banget sama ceritanya Kartika di bawah ini, sampai akhirnya tobat dan beneran beli baju seperlunya aja sekarang. Satu hal yang penting dari ceritanya Kartika, her life and mindset change a lot after watching a documentary film on youtube, artinya konten yang kita konsumsi tuh ngaruh banget kann?? Yuk, edukasi diri sendiri dan banyakin nonton konten faedah dan lestari karena you'll never know where it will lead you!


Dulu aku tuh hobby banget belanja baju. Mulai dari baju ngantor sehari-hari sampai weekend outfit buat hangout. Rasanya, selalu ‘butuh’ untuk beli baju baru. Hampir tiap hari aku browsing online dan saat lihat yang aku pengen, tanpa pikir panjang pasti langsung aku check out. Yah anggep retail therapy, melepas stress!


Well, sebagian besar baju-baju itu cuma aku pakai sekali-dua kali. Banyak pula yang belum pernah aku pakai sama sekali karena ternyata ngga cocok di badanku. Sering kali juga aku beli dua size yang berbeda untuk baju yang sama, jaga-jaga aja gitu kalau ukurannya terlalu besar atau terlalu kecil karena beli online.


Sempet aku jual juga yang ga terpakai, lumayan extra cash sekaligus mengurangi isi lemari, hehe. Tapi makin lama, kerjaan kantor makin numpuk, deadline makin gila, ga jarang weekend aku masih kerja, pulang ke rumah selalu dalam kondisi udah cape banget (yang pada ngantor dari pagi sampe sore pasti relate haha).


Tidur aja kurang, boro boro mau bongkar isi lemari, pilihin baju-baju bejibun, upload foto-foto, lalu harus packing dan ngirim ke kantor pos (kebetulan saat itu aku tinggal di Singapura, ga ada tuh jasa kurir pickup gratis kayak disini, harus kita sendiri yang mengantar paket ke kantornya atau ke kotak pos terdekat). Seriusan deh aku ngebayanginnya aja udah ga sanggup. Lagian itu kan cuma baju-baju murah, biarin aja lah… Beberapa aku donasikan, sisanya aku masukin kontainer.

Did I stop buying clothes then? Nope! I still bought more new clothes meskipun lemari udah ga cukup.


Perubahan terbesar dalam hidupku

Ga sengaja aku nonton dokumenter pendek di youtube yang ngejelasin tentang industri fast-fashion. And this one video shocked the hell out of me. Aku jadi nontonin video-video lainnya seharian, googling, sampe telepon saudaraku yang kebetulan sekolah design & fashion karena dia pasti lebih ngerti.


Hari itu, aku nangis parah bukan karena nonton drama tapi karena shock, marah, in denial, lalu nyesel banget se-nyesel-nyeselnya. Jujur akulah salah satu dari jutaan konsumen yang ‘tidak peduli’ sebelumnya. Buat apa dipake berkali-kali? Kayak ga punya baju aja. Lagian dulu belinya murah kok dan toh aku bakal beli lagi yang baru, outfit haul!


Padahal, buat produksi 1 baju udah ngehabisin lebih dari 2.000 liter air bersih. Gila ga sih? 10pcs aja bajuku artinya lebih dari 20 ribu liter air…yang hanya aku pake beberapa kali lalu nganggur dilemari dan akhirnya jadi limbah yang dibakar di TPA.

Parahnya lagi limbah kimia dari pabrik tekstil (supplier fast-fashion brands) ternyata toxic abis. Warga sekitar jadi korban dan anak-anak kena penyakit. Hal ini nyata terjadi di Sungai Citarum, Bandung, Indonesia. Negaraku sendiri. Miris dan hopeless rasanya aku ga bisa berbuat apa-apa buat semua ini. Like, siapa gue mau bikin peraturan pencemaran lingkungan pabrik tekstil?

Nangis terparahku saat tau bahwa pekerja sweatshop yang menjahit baju-baju untuk fast-fashion brands diperlakukan ga adil dan ga bisa resign karena butuh kerja. Aku bener-bener tersadar akan privilege yang aku punya selama ini (dan sangat bersyukur untuk itu) karena aku habis resign dari kantor trus travelling sampai pandemi datang di awal tahun 2020 dan stay safe at home sampe sekarang.


Well, tragedi Rana Plaza terjadi pada tahun 2013, tapi sampe detik ini sweatshop dan polemik supply-chain dari fast fashion brands masih tetap ada.

Isi lemariku penuh dengan baju-baju dari brand-brand fast-fashion itu. Iya, lah, tiap minggu shopping, gimana mau gak penuh? Aku adalah bagian dari masalah over-produksi dan over-konsumsi ini. Uang yang aku keluarkan untuk membeli baju mereka, secara langsung mendukung brand-brand tersebut. Dan aku hanyalah 1 dari jutaan konsumen lainnya.


Memulai Second And Earth (SAE)

Aku commit sama diriku sendiri buat pake baju yang udah ada dan cari ke secondhand dulu kalo butuh outfit baru. I stopped supporting unethical fashion brands. I stopped my fashion overconsumption. Kalo bener-bener butuh beli baru, aku cari brand yang transparan dengan material-sourcing dan supply-chain mereka, meskipun biasanya harganya jauh lebih mahal.


Akhirnya pada September 2020, di tengah pandemi yang tampak tak berujung ini, aku membulatkan tekad untuk memulai sebuah usaha Thrift & Consignment yang bertujuan menjualkan pakaian yang ga kepake dari Consignors (pemilik) ke Thrifters (pembeli). Bareng dengan saudaraku yang kebetulan juga balik ke Indonesia karena pandemi, kita bersama membangun SAE dengan modal seadanya.


Sistem SAE adalah titip-jual (consign). Para pemilik baju yang numpuk, ga kepake dan pengen declutter tapi ga sempat ngurusin, cuma perlu kirimin ke SAE dan payout akan di-transfer dari baju-baju yang terjual dikurangi komisi SAE.

Hampir setahun ngerjain SAE, ga sedikit yang memandang sebelah mata usaha kami, “emang ada yang mau beli baju bekas?” dan “oooh thrift...why?” terutama dari generasi baby boomers dan beberapa millennials yang masih belum peduli dengan krisis iklim. Di satu sisi aku sedih sebenernya haha tapi disisi lain aku juga paham, ga semua orang aware akan industri fashion, dampak fast-fashion, kerusakan alam, dan lain-lain (termasuk aku yang dulu!).


Salah satu misi SAE adalah menormalkan memakai dan membeli secondhand. Thrifting adalah hal yang baik selama tidak dilakukan berlebihan. SAE ingin menyebarluaskan conscious fashion sambil berbisnis yang dapat menjadi solusi limbah, bukannya malah nambahin!


Banyak juga yang ngedukung kami sepanjang perjalanan ini, terutama dari para Consignors & Thrifters.

Seneng banget saat ngeliat SAE pelan-pelan makin bertumbuh dan jadi bisnis yang sustainable gak hanya dari segi lingkungan dan sosial tapi juga ekonominya, hashtag #CuanLestari hehe. Saat aku ngeliat post Cleanomic yang ngasih kesempatan buat sharing cerita #CuanLestari, aku pengen ambil bagian karena aku pribadi suka banget sama transparansi Cleanomic dari artikel-artikel yang pernah kubaca sebelumnya.


Saat ini, kami terus berusaha untuk ngembangin SAE supaya bisa berkontribusi lebih besar lagi. The bigger we are, the bigger our impact will be! We welcome everyone who wants to contribute in any way, baik sebagai Consignor, Thrifter, ataupun usaha profit/non-profit yang sejalan dengan visi dan misi SAE!


Find us on Instagram : @secondandearth we will find new owners for your forgotten clothes!

Find us on marketplace buat nge-thrift :

Shopee @secondandearth atau Tokopedia by request @secondandearth

Drop us email at secondandearth@gmail.com buat collab!


Together we can be the changes we wish to see in the world, for one is too small to make a difference! #YukBisaYuk Semangat kita semua!


SOURCE :

  1. https://www.worldwildlife.org/stories/the-impact-of-a-cotton-t-shirt

  2. https://www.cbc.ca/news/business/clothes-recycling-marketplace-1.4493490

  3. https://www.aljazeera.com/program/101-east/2018/5/3/indonesias-most-polluted-river

  4. https://www.theworldcounts.com/challenges/people-and-poverty/slavery-and-sweatshops/sweatshop-workers-conditions/story

  5. https://www.youtube.com/watch?v=9Fkhzdc4ybw (Trigger Warning: video may contain explicit graphic of death)

19 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua