• Sekar Arum

5 Sustainable Couple



Hallo sahabat lestari! Kalau kamu lagi belajar jadi environmentalist atau orang yg sedikit banyak peduli terhadap lingkungan, pasti punya favorit account yang bantu kamu buat belajar hal tersebut. Memulai hidup sebagai seorang yang peduli lingkungan bisa dimulai dari diri sendiri dan keluarga, jadi paling pas kalau kita mantengin instagram account couple atau family yang sudah menerapkan prinsip hidup sustainability, karena pasti semua itu akan relate ke kehidupan kita juga dirumah. Nah, sekarang ini, kita mau kasih rekomendasi kamu 5 akun instagram sustainable couple yang wajib banget kamu follow! Akan ada banyak hal yang bisa kamu pelajari dari mereka, karena setiap couple punya keunikan dan caranya sendiri sendiri dalam menjadi seorang environmentalist. Bentukan hidup sustainable itu ada beberapa tipe yang bisa saling menggantikan atau tumpang tindih atau terintegrasi, diantaranya ada homesteading, zero waste life style, hidup sederhana, dan hidup Minimalis. Yuk sama-sama kepoin siapa aja dan apa sih isi konten instagram nya!


1. Sukkhacitta (Denica dan Bertram)


Lewat perjalannya ke berbagai pelosok Tanah Air, Denica melihat bahwa jarang anak muda yang tertarik bekerja di industri kerajinan. Walaupun memiliki potensi besar dalam menyerap banyak tenaga kerja, menurutnya salah satu industri yang memiliki konsentrasi kemiskinan tertinggi di Indonesia adalah industri kerajinan. Dari situlah Denica tertarik dengann usaha kerajinan fashion untuk memberdayakan masyarakat perajin dan meningkatan kesejahteraan mereka. Denica menghabiskan waktu satu tahun mempelajari sistem kerajinan industri, termasuk teknik membatik dan pewarnaannya. Di tengah risetnya, Denica bertemu dengan satu keluarga yang menjual pasta indigo (warna biru) pewarna tekstil alami dari tanaman nila yang mereka budidayakan di Desa Jlamprang, Wonosobo, Jawa Tengah. Bersama tiga ibu di Desa Jlamprang, Denica memulai SukkhaCitta sejak Agustus 2016. Dalam menjalankan bisnis SukkhaCitta, Denica dan suaminya Bertram membuat standar bernama #MadeRight. Standar ini mewakili filosofi bahwa semua pakaian yang diproduksi SukkhaCitta haruslah ‘dibuat dengan semestinya’, memenuhi tiga pilar yaitu menyediakan upah yang layak bagi para perajin, berdampak baik bagi lingkungan berkelanjutan, serta melestarikan tradisi.


Untuk mendukung program berkelanjutannya, produk SukkhaCitta bekerja sama dengan pengrajin lokal di desa-desa yang menggunakan teknik pewarnaan dari zaman dulu, yaitu menggunakan serat dan cat alami yang ramah lingkungan. Lewat hasil penjualannya SukkhaCitta mampu meningkatkan pendapatan pengrajin sebesar 40% loh! Sementara 50% dari hasil pembelian akan langsung dialokasikan untuk dana bantuan pendidikan. Pendidikan yang diberikan berupa pendirian sekolah khusus untuk pengrajin di komunitas tersebut agar warisan pengetahuan dan keterampilannya dapat dilestarikan dari generasi ke generasi. Pengrajin-pengrajin SukkhaCitta membuat produk fashion seperti dress, outer, blouse, dan dompet. Kain yang digunakan sering kali berasal dari kapas mentah, linen, ataupun tencel. Sementara motif batiknya digambar menggunakan tangan. SukkhaCitta telah diakui oleh SEED Low Carbon Awards karena produk sow fashionnya yang mendukung keberlanjutan! Kalau kamu tertarik ingin membeli produk dari SukkhaCitta, kamu bisa membelinya via website di sini.


2. Agradaya (Andhika dan Asri)

Agradaya didirikan sebagai upaya untuk mewujudkan bumi yang lestari melalui penerapan praktek pertanian dan perkebunan rempah yang berkelanjutan. Skema Pertanian yang Berkelanjutan adalah skema pertanian yang menggunakan prinsip pertanian yang ekologis, ramah lingkungan, penggunaan teknologi dengan sumber daya terbarukan dan nilai kerjasama yang adil dan transparan. Agradaya berlokasi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan dikelola oleh sepasang suami istri bernama Andhika dan Asri. Awal mula Agradaya terbentuk karena kak Andhika memang sejak kuliah memiliki misi untuk hidup di desa dan memajukan potensi lokal. Nah, karena kak Andika juga sangat passionate dalam bidang bisnis, isu pertanian, produk lokal dan anak muda, terbentuklah Agradaya yang kini telah bekerja sama dengan lebih dari 200 petani untuk membudidayakan dan mengolah tanaman rempah biofarmaka seperti jahe, kunyit, dan temulawak. Agradaya fokus pada pengembangan tanaman rempah natural, bermitra bersama dengan sejumlah petani rempah skala kecil di Yogyakarta dan Jawa Timur.


Agradaya menghasilkan ramuan kebaikan berupa produk rempah serbuk, rempah tisane dan rempah latte yang memiliki manfaat untuk keselarasan dan kesehatan tubuh. Mereka berkontribusi pada upaya mencipatakan alam dan lingkungan yang lestari dengan menerapkan prinsip pertanian dan perkebunan rempah alami. Agradaya memperluas pasar rempah, sekaligus melakukan edukasi ke konsumen dalam mengolah rempah-rempah untuk kebaikan tubuh. Agradaya juga menyampaikan kebaikan-kebaikan dari desa untuk mendukung hubungan yang harmonis antara manusia-alam-sang pencipta.


Selaras dengan visis dan misi mereka sebagai penggerak pertanian rempah berkelanjutan, Agradaya berharap upaya yang mereka lakukan bisa menjadi bagian dari lestarinya rempah di masa depan. Sahabat Lestari bisa bayangkan, tanpa upaya pelestarian, rempah hanya akan menjadi cerita masa lalu. Dimana Indonesia menjadi negara yang dijajah oleh bangsa asing untuk diambil hasil rempahnya dengan kapal-kapal besar. Jangan sampai generasi mendatang tidak mengenal kekayaan alam Indonesia yang menjadi primadona bangsa asing karena manfaatnya yang begitu berlimpah. Jangan sampai generasi mendatang tidak bisa mencicipi lagi kreasi maknaan Indonesia yang khas dan kaya akan rempah, jangan sampai mereka tidak lagi dapat menikmati hangatnya menyantap jamu untuk memulihkan kesehatan badan. Let's do something real for that! Mari menjadi pelestari kekayan alam Indonesia.


3. Burgreens (Max-Helga)


Oke, kalo tadi adalah konsep Keluarga yang sangat menyatu dengan Alam. Kalo keluarga yang satu ini mendukung sustainability lewat pola makan Plant Based. Founder dari @burgreens adalah sepasang suami istri bernama Max dan Helga. Mereka berdua adalah sepasang suami-istri yang menerapkan pola makan plant based atau vegan. Mereka hanya mengonsumsi produk nabati tanpa menggunakan sedikit pun produk hewani, tujuan nya adalah untuk mengurangi jejak karbon yang ditimbulkan dari peternakan komersial untuk memasok daging ke seluruh dunia. Nah, karena pola makan mereka yang cukup langka, dulu mereka sempat merasa kesulitan untuk menemukan restoran khusus makanan vegan di Indonesia. Kesulitan itulah yang menginspirasi mereka untuk mendirikan Burgreens.


Burgreens merupakan restoran makanan vegan yang dirancang khusus untuk lidah orang Asia. Meski menunya terfragmentasi, menariknya pelanggannya terbesar mereka bukan para vegetarian, melainkan orang-orang yang sadar terhadap kesehatan dan memilih untuk mengurangi konsumsi daging untuk alasan kesehatan dan lingkungan. Tidak hanya menjadi restoran, visi dan misi dari Burgreens itu sebenarnya adalah gerakan sadar sosial bahwa makanan yang dipilih itu berasal dari alam dan petani lokal organik, sehingga tidak menimbulkan jejak karbon yang banyak dalam proses pertumbuhan nya hingga menjadi sebuah makanan siap saji.


Di instagram pribadinya, Max dan Helga juga senang berbagi beragam aktivitas nya yang mendukung kelestarian lingkungan, jadi kalo sahabat tertarik untuk mencoba burgreens dan ingin melihat keseharian mereka, wajib follow ketiga akun instagram mereka ya! Caww


4. Kebun Kumara (Sandra-Dira)


Kak Sandra dan Kak Dira sepasang suami istri dibalik suksesnya Kebun Kumara. Mereka mengawali kehidupan berkebunnya di tahun 2016. Mereka mengaku bahwa awalnya adalah sekelompok anak kota yang haus akan pengetahuan yang lebih holistik untuk membantunya menjalani kehidupan yang lebih baik dan bermakna. Tibalah pada tahun 2016, mereka menjadi akrab dengan permakultur dan mulai belajar menanam makanan mereka sendiri. Semua usaha permakultur itu tidak berjalan lancar begitu saja, mereka mengalami berbagai kegagalan terlebih dahulu, benih mati, tanaman mati. Tetapi menurut mereka proses itu mengajari mereka apa yang tidak dapat dicapai oleh pendidikan kita selama bertahun-tahun bahwa mencocokkan sifat kita dengan Alam membawa pengetahuan dan kedamaian yang tiada duanya.


Dari perjalanan panjang itulah, kita sekarang bisa mengenal Kebun Kumara. Kebun Kumara terletak di Pulau Situ Gintung, sebuah tempat rekreasi umum yang terletak di Ciputat, Tangerang Selatan. Kebun Kumara mengelola sekitar 1,5 ha area ini sebagai ruang hijau. Kawasan ini berada tepat di pinggiran Jakarta Selatan, mudah diakses dari zona dalam Jakarta dan kota-kota satelit di sekitarnya. Mereka menanam beragam jenis tanaman hias dan sayuran, membuat benih mereka sendiri, membuat pupuknya sendiri dan membuat produk sendiri. Semua produk yang mereka hasilkan bisa kamu beli di account isntagram @tokokumara. Kak Sandra, kak Dira bersama teamnya saat ini terus mengembangkan pertanian organik mereka, ia juga bekerjasama dengan magalarva dalam mengolah sampah organik. Saat ini mereka juga menyediakan jasa landscaping rumah, sekolah, kantor dll untuk mengubah halaman, balkon, dan dinding mereka menjadi ruang penghasil makanan yang indah. Kalau sahabat lestari tertarik dengan Layanan Landscaping Kebun Kumara, silakan kirim email ke mereka di landscape.kumara@gmail.com.


Nah, selain itu mereka juga mengadakan workshop nih, yang berfokus pada kehidupan berkelanjutan dari segi makanan dan limbah, melayani kelompok dari berbagai usia. Mengapa tidak memeriksa Lokakarya Akhir Pekan berulang kami, atau biarkan kami mengatur acara pribadi Anda sendiri untuk sekolah, teman, atau komunitas Anda! Tema yang tersedia antara lain Berkebun, Pengomposan, dan Ecobrick.


5. Cleanomic (Denia-Aldy)


Cleanomic adalah sebuah platform social media yang membahas topik seputar #hiduplestari sambil mengejar #cuanlestari. Mereka memliki misi untuk menginspirasi masyarakat Indonesia agar menjadi konsumen bijak yang mendukung perekonomian hijau dan berkelanjutan di Indonesia. Mimpi mereka adalah clean economy. Nah, siapa si dibalik Cleanomic ini? Mereka adalah seorang suami istri bernama Aldy dan Denia. Kak Denia adalah founder dari Cleanomic. Sehari-harinya berprofesi sebagai Corporate Lawyer di Jakarta, awal mula beride membuat Cleanomic di dasari dari climate anxiety nya di tahun 2018. Sementara kak Aldy sehari-harinya bekerja di Bappenas, dan sebagai editor Cleanomic. Selain menyiapkan dan mengedit konten Cleanomic,ia juga bertugas untuk mengurus segala urusan kompos di MinisponsibleHouse, yaitu konsep rumah ramah lingkungan yang kini mereka tinggali.


Penasaran ngga sama Minisponsible House mereka? Rumah yang mereka tinggali mengusung konsep ramah lingkungan di bagian apa aja sih? Kok bisa disebut ramah lingkungan? Jadi sahabat, rumah milik kak Denia dan kak Aldy ini dibuat dengan furniture yang sebagian besar merupakan upcycle product, mereka juga menggunakan teknologi panel surya sebagai sumber energi listrik kedua dirumah mereka, menerapkan sistem recycle air, dan juga memiliki area hijau dan area composting. Lebih lengkapnya kamu bisa cek langsung ke ig @minisponsiblehouse atau di chanel youtube milik Cleanomic. Mereka menjelaskan secara detail mulai dari design, interior sampai biaya yang dibutuhkan. Kalau tadi sudah bahas rumah di bukit/hutan dan gaya hidup sustainable melalui homsteading, versi kak Denia ini jauh lebih modern karena mereka membangun minisponsible ini di daerah perkotaan. Gimana? Bisa banget jadi inspirasi rumah masa depanmu!


O iya, belum lama ini kak Denia dan kak Aldy juga menulis buku lho, judulnya "Hemat (Sampah) Pangkal Kaya". Buku ini berisi tentang pengalaman mereka selama menjalani hidup peduli lingkungan. Tidak hanya membahas konsep gaya hidup zero waste dan prinsip SKS, yaitu Sebelum Ketika-Sesudah membeli barang, buku ini juga mengajak pembaca untuk “Investasi Hemat (Sampah) Pangkal Kaya” yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari rumah, kantor, termasuk saat travelling. Buku ini terdiri dari enam bab yang secara runut membahas tentang “Semua Berawal dari Suatu Titik Mula”, “Zero Waste Dimulai!”, “Investasi Hemat (Sampah) Pangkal Kaya”, “Investasi Hijau”, “Zero Waste Tidak Sama dengan Zero Challenge!”, dan “Berbaikan dengan Diri Sendiri, Orang Lain, dan Lingkungan”. Ilustrasi yang manis dan mudah dipahami di dalam buku hingga sampul buku juga dibuat sendiri oleh kak Denia dan kak Aldy, keren banget yaa! Buku Hemat (Sampah) Pangkal Kaya bisa didapatkan di toko-toko fisik Gramedia seluruh Indonesia dan versi digital (e-book) di ebooks.gramedia.com.

39 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua