top of page

Carbonethics: Memulihkan Keseimbangan Iklim Dengan Keanekaragaman Hayati

Diperbarui: 7 Des 2023


Sebagian dari kamu pasti sudah mengerti, bahwa setiap kegiatan kita menghasilkan gas rumah kaca, secara langsung maupun tidak langsung. Jadi, sebenarnya secara alamiah, karbon yang dihasilkan di alam ini, oleh kita dan secara alamiah oleh tumbuh-tumbuhan dan binatang, selain diserap oleh tumbuhan di daratan, juga diserap oleh ekosistem pesisir dan laut. Rumput laut, hutan mangrove, serta rawa-rawa di sepanjang pantai kita menangkap dan menahan karbon biru di bawah tanah yang tidak bisa terlihat oleh kasat mata.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (Puslitbanghut) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam website resminya menyatakan, cadangan karbon pada ekosistem hutan bakau tersimpan menjadi 5 sumber cadangan karbon, yaitu biomassa vegetasi hidup pada bagian atas permukaan tanah, biomassa vegetasi hidup pada bagian bawah permukaan tanah (akar), serasah (tumpukan tumbuh-tumbuhan yang sudah mati), kayu mati, dan tanah.


Dalam kesempatan kali ini CEO kami, Denia berdiskusi bareng Nandya, salah satu founder dari Carbonethics. Carbonesthics adalah sebuah Organisasi Non-Profit di Indonesia yang bertujuan untuk memperlambat krisis iklim. Carbonethics didirikan oleh 3 founder yaitu Nandya, Jessica dan Bimo yang pertama kali bertemu dalam acara One Young World 2018. Mereka mempunyai passion yang sama terkait climate change dan environmental issues yang akhirnya membawa mereka ke Carbonethics.


Carbonethics bertujuan memulihkan keseimbangan iklim melalui solusi iklim alami dengan pelopor dalam konservasi karbon biru. Tidak hanya menciptakan perubahan lingkungan yang positif, Carbonethics juga mengajak masyarakat memajukan dampak sosial dengan secara langsung meningkatkan mata pencaharian mitra masyarakat lokal dan keanekaragaman hayati.

Lalu apa itu blue carbon atau karbon biru? Karbon biru merupakan istilah untuk karbon yang diserap dan disimpan di ekosistem pesisir dan laut, termasuk yang tersimpan dalam lahan basah pasang surut, seperti hutan pasang surut, hutan mangrove, semak pasang surut, dan juga padang lamun (seagrass, sejenis tumbuhan/rumput laut). Nah, karena disimpan di bawah air, dan berhubungan dengan perairan, karbon ini disebut ‘Karbon Biru’.


Sebenarnya, selain karbon birunya itu sendiri yang penting, tapi ekosistem penangkap karbon ini juga tidak kalah pentingnya. Ekosistem pesisir dan laut ini punya peran yang sangat penting dalam menangani krisis iklim karena tanaman-tanaman ini dapat menyimpan karbon 3-10 kali lipat lebih banyak dari hutan terestrial (hutan di daratan). Ekosistem ini memang juara, karena “layanan” karbon biru ini hanya salah satu dari manfaat ekosistem ini. Ekosistem ini memproduksi gas oksigen yang kita hirup, bisa menahan abrasi pantai dengan mangrove-nya, berperan penting dalam kualitas air, mendukung ketahanan pangan dunia, kembang biak flora dan fauna pesisir dan laut, serta menyediakan pemandangan yang oke terutama buat kamu pemburu konten instagram!

Meskipun sistem pesisir luasannya jauh lebih kecil dibandingkan hutan di daratan, kecepatan penyerapan karbon ekosistem pesisir ini ternyata jauh lebih cepat dan terus menerus melangsungkan penyerapan ini selama jutaan tahun. Jadinya memang tidak heran ya, NOAA menuliskan, karbon yang ditemukan di pesisir seringkali berusia hingga ribuan tahun.


Mungkin sebagian kalian tahu, Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai garis pantai terpanjang ke-empat di dunia. Dengan panjang pantai yang lebih dari 95 ribu kilometer ini (btw, panjang garis khatulistiwa “cuma” 40 ribuan, loh), Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di tahun 2015 Indonesia mempunyai luas mangrove sebesar lebih dari 3,4 juta Ha. Jumlah ini setara dengan 23% ekosistem mangrove dunia. Selain itu, hutan mangrove Indonesia menyimpan lima kali karbon lebih banyak per hektar dibandingkan dengan hutan tropis dataran tinggi. Dengan modal mangrove yang besar ini, mangrove di Indonesia menyimpan sepertiga stok karbon pesisir global.

Sayangnya, ekosistem karbon biru pesisir telah hilang pada tingkat mengkhawatirkan, diperkirakan sepertiga dari total global hilang selama beberapa dekade terakhir. Melansir Tempo, hutan mangrove Indonesia menghilang 52 ribu Ha setiap tahun, atau setara dengan dengan luas 3 lapangan bola per minggu, dimana deforestasi mangrove terbesar disumbang oleh penggunaan lahan untuk tambak udang.

Selain itu, dari luas mangrove di Indonesia, diketahui seluas 1,67 Ha dalam kondisi baik, sedangkan sisanya dalam kondisi rusak. Pemerintah pun sudah terus berusaha merehabilitasinya. Selama kurun waktu 2010-2017, KLHK telah melaksanakan rehabilitasi hutan dan lahan mangrove seluas lebih dari 32 ribu Ha. Namun, kalau laju deforestasi ini tidak cepat-cepat dihentikan, ekosistem karbon biru di Indonesia akan habis dalam waktu 10-15 tahun. Sedih yah.


Untuk mendukung rehabilitasi ekosistem karbon biru, sekarang Cleanomic berpartner dengan Carbonethics dalam menyediakan donasi dalam bentuk Blue Carbon. Melalui tautan ini, kalian dapat berdonasi paket blue carbon seharga Rp50,000 yang terdiri dari:

  1. 1 pohon mangrove

  2. 1 bibit lamun (seagrass)

  3. 1 bibit rumput laut

  4. 1 bibit coral

Berbeda dengan program penanaman pohon lainnya, program ini mencakup monitoring reguler bibit dan ekosistem selama 3 tahun oleh tim Carbonethics untuk memastikan bibit yang ditanam tumbuh dengan baik dan menjadi ekosistem yang subur. Mau ikutan monitoring? Boleh banget! Carbonethics punya program volunteer dan trip yang cukup reguler untuk kegiatan monitoring penanaman karbon biru ini dan trip ini juga bisa dilaksanakan by request.


Program karbon biru ini dilaksanakan di Pulau Harapan dan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Oya, Carbonethics punya kalkulator yang bisa menghitung jumlah jejak karbon kamu lho. Kamu bisa coba hitung di sini yah!

Biar lebih paham tentang Blue Carbon, yuk simak Podcast Cleanomic bareng Carbonethics!


Contact Carbonetchics

Lokasi : Jakarta

Founder : Jessica Novia, Innandya Irawan, and Agung Bimo Listyanu


450 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page