top of page

Billie Eilish: Melawan Krisis Iklim Lewat Musik dan Gaya Autentik

Diperbarui: 12 Des 2023


Lahir dan besar di Los Angeles, Billie Eilish telah mengeksplor bakat musiknya sejak belia. Penyanyi kelahiran 2001 itu diberikan pendidikan di rumah (homeschooling) oleh orang tuanya agar bisa bebas mempelajari apa yang ia minati. Saat usianya 8 tahun, Billie bergabung dalam Paduan Suara Anak-Anak Los Angeles dan tiga tahun kemudian ia mulai menekuni penulisan lagu. Di usianya yang ke-13, Billie diminta untuk menyanyikan lagu 'Ocean Eyes', sebuah lagu yang diproduseri kakaknya, Finneas. Rekaman tersebut kemudian di-upload ke SoundCloud dan dalam waktu singkat langsung menarik banyak atensi, baik dari para casual listener hingga label rekaman Darkroom dan Interscope yang akhirnya merilis ulang 'Ocean Eyes' versi digital streaming dan dari sinilah karir cemerlang Billie dimulai.


Don't Smile at Me menjadi EP pertama yang dirilis Billie di tahun 2017. Menyusul kemudian album full length-nya When We All Fall Asleep, Where Do We Go? dengan lagu Bad Guy di urutan kelima yang berhasil menjadi mega hit. Era album ini mengantar Billie menjadi perempuan pertama yang menerima empat penghargaan utama  pada Grammy Awards ke-62 di tahun 2020. 


Billie menarik perhatian begitu besar dengan keunikan yang dimilikinya. Di umur kecil, ia telah mampu memproduksi musik sendiri, memiliki suara jenis sopran yang memikat, serta getaran musik dan pembawaan diri yang autentik. Lagu-lagu Billie menyinggung banyak topik mulai dari cinta, depresi, kehilangan, gambaran citra diri, bahkan salah satu lagunya yang berjudul 'All the Good Girls Go to Hell' berbicara tentang isu lingkungan, lho!


Banyak orang mengira kalau lagu ini terkait dengan pemujaan setan, Illuminati, atau semacamnya. Apalagi kalau melihat dari lirik dan MV-nya yang cukup dark dan creepy. Padahal jika ditelusuri lebih jauh, lagu ini menceritakan tentang pemanasan global dan krisis iklim. Billie membagikan makna dan inspirasinya ketika menciptakan lagu ini dalam salah satu sesi live-nya di rumah selama masa pandemi. 


Kalau memerhatikan MV-nya, ada adegan malaikat bersayap yang jatuh. Malaikat ini jatuh ke bumi dan mendarat di lubang berisi kubangan hitam yang menjijikkan. Part ini menginterpretasikan hewan-hewan yang terancam karena pencemaran lingkungan yang dilakukan manusia di mana-mana. Malaikat yang awalnya bersayap putih bersih, berubah jadi hitam, jelek, dan kesusahan buat keluar dari lubang itu. Gak nyangka ya?


Lagu 'All the Good Girls Go to Hell' ini sendiri dirilis menjelang KTT Iklim untuk mendukung Global Climate Strikes yang diprakarsai Greta Thunberg. Melalui story Instagramnya, Billie juga meminta fans untuk memberi perhatian terhadap isu krisis iklim ini. Musisi itu menulis,


“Right now there are millions of people all over the world begging our leaders to pay attention. Our earth is warming up at an unprecedented rate, icecaps are melting, our oceans are rising, our wildlife is being poisoned and our forests are burning. 


On September 23rd, the UN will host the 2019 Climate Action Summit to discuss how to tackle these issues. The clock is ticking. On Friday September 20th and Friday September 27th you can make your voice be heard. Take it to the streets. #climatestrike @greenpeace."


Billie dan kakaknya, Finneas, dikenal sebagai musisi yang sangat peduli lingkungan, mereka berdua juga menjalani hidup vegan lho! Sebelum adanya pandemi, Billie sebenarnya sedang berada di tengah tur dunianya. Ketika merencanakan tur, Billie memastikan tur nya se-eco-friendly mungkin. Bermitra dengan REVERB, tur dijalankan dengan larangan penggunaan sedotan plastik di arena panggung dan sekitarnya, mengajak penggemar untuk membawa botol pakai ulang,  dan penyediaan kotak dropbox untuk recycle items


Tur dunia dari Billie ini bahkan mungkin menjadi tur paling "hijau" yang pernah terjadi di industri musik. Dengan penyediaan 100% konsumsi  berbahan nabati bagi seluruh staf dan memegang tanggung jawab pengolahan sisa konsumsi tersebut untuk dijadikan kompos, menawarkan merchandise ramah lingkungan seperti jaket dari bahan daur ulang dan copy-album yang dikemas dengan kemasan dari tebu, serta pengadaan Eco Village di mana ini merupakan zona interaktif bagi penggemar untuk mendapat edukasi terkait permasalahan lingkungan.


Billie jelas begitu keras menggaungkan isu iklim ini di banyak kesempatan. Lainnya seperti merilis video kampanye climate emergency 'Our House is On Fire' bersama Woody Harrelson dan berkolaborasi dengan NIKE untuk produk sepatu Nike Air Force 1 yang ramah lingkungan. 




Di awal tahun 2023, bersama Vogue, Billie mewujudkan keinginannya untuk dapat menjalin pembicaraan atraktif dengan aktivis iklim. Ada 8 aktivis iklim yang terlibat dalam sesi sharing KTT iklim mini ini. Delapan aktivis tersebut yakni: Quannah Chasinghorse, aktivis iklim yang juga merupakan seorang model; Wawa Gatheru, founder Black Girl Enviroment; Nalleli Cobo, pejuang kanker yang berjibaku menekan Big Oil untuk menutup sumur beracun di lingkungannya; Tori Tsui, aktivis iklim yang menulis buku 'It's Not Just You'; Maya Penn, film maker dan desainer pakaian ramah lingkungan; Isaias Hernandez, veganis yang merupakan founder QueerBrownVegan; Ryan Berberet, pelajar muda yang memimpin aksi mogok iklim; dan Xiye Bastida, co-founder Re-Earth Initiative dan penyelenggara Fridays of Future. Dan meski banyak yang telah mengetahui keseriusan Billie untuk berkontribusi melawan perubahan iklim yang tercermin di antaranya dari pelaksanaan eco-concert-nya, musisi itu mengakui bahwa ia merasa tidak pantas berada bersama kelompok aktivis iklim tersebut. "Saya tidak tahu banyak. Saya baru belajar." imbuh Billie. 


Dalam pembicaraan tersebut, Billie juga menceritakan perasaan bersalahnya tentang bagaimana ia masih menggunakan pesawat untuk bepergian karena tuntutan pekerjaannya sebagai musisi yang tampil di berbagai belahan dunia. Padahal, Billie diketahui telah menolak penggunaan jet pribadi dan memilih penerbangan komersial yang berhasil mengurangi jejak karbon lebih dari 15.000 ton. Namun, musisi itu masih bertekad untuk mencari solusi lain dalam bepergian.


Billie ingin membuat perbedaan tanpa perlu berkoar bahwa ia berbeda, menunjukkan aksi nyata tanpa menggurui. Kepada Vogue, Billie berbagi perasaannya bahwa ia ingin bisa membuat perubahan dan menyelamatkan dunia sendirian, namun itu jelas tidak mungkin. Karenanya ia berharap setiap orang dapat mengambil langkah perbaikan yang sudah semestinya dilakukan untuk mengatasi krisis iklim ini.


Billie Eilish benar-benar mengajarkan kita bahwa mengkampanyekan lingkungan sangat bisa dilakukan melalui berbagai karya seni. Dan platform besar seperti Billie pasti punya potensi untuk berdampak positif! 


Punya musisi atau artist yang suka bikin karya tentang alam atau lingkungan? Coba share di komen yah! Bareng-bareng kita dukung karya mereka.



Sumber:


Song Facts. "All the Good Girls Go to Hell


Rolling Stone. "Watch Billie Eilish Become Fallen Angel in 'All the Good Girls Go to Hell' Video. rollingstone.com. https://www.rollingstone.com/music/music-news/billie-eilish-all-the-good-girls-go-to-hell-climate-change-video-879648/


Bustle. "Billie Eilish's 'All the Good Girls Go to Hell' Video Included A Crucial Message About Climate Change'". bustle.com. https://www.bustle.com/p/billie-eilishs-all-the-good-girls-go-to-hell-video-includes-a-crucial-message-about-climate-change-18725993


Biography. "Billie Eilish - Songs, Age, & Facts". biography.com. https://www.biography.com/musicians/billie-eilish


Brightly. "How Billie Eilish Is Fighting Climate Change on Tour". brightly.eco. https://brightly.eco/blog/how-billie-eilish-is-fighting-climate-change-on-tour


Vogue. "Our Future: Billie Eilish on Climate Activism and Radical Hope". vogue.com. https://www.vogue.com/article/billie-eilish-climate-activism-january-cover-2022-video


28 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page