top of page

Bumi Macakal : Rumah Berkonsep Co-housing dan Kemandirian Sumber Daya Alam


Kehidupan yang serba instan dan praktis banyak jadi pilihan orang-orang saat ini. Apalagi seiring perkembangan zaman, teknologi yang memudahkan hidup rasanya membuat banyak orang terlena. Namun tidak sedikit juga loh yang malah memilih menarik diri dari ritme kehidupan yang cepat, tapi tetap produktif. Salah satunya dilakukan oleh pasangan bernama Tanti dan Irman Yudiana yang memilih untuk hidup dengan konsep slow living dan sustainable living di rumah tinggalnya yang dinamai Bumi Macakal. 


Bumi Macakal mulai dibangun di tahun 2018 diatas tanah seluas 660 m2. Dikenal sebagai sustainable home, Bumi macakal menurut pemiliknya mengusung konsep co-housing dan kemandirian. Konsep co-housing adalah konsep rumah yang terbagi lagi menjadi beberapa unit rumah kecil yang ditinggali masing-masing kepala keluarga. 


Bumi macakal terdiri dari 6 unit rumah yang semuanya berbentuk rumah panggung, hal ini sengaja dibuat dengan tujuan memaksimalkan fungsi lahan. Selain rumah ada beberapa bagian di lingkungan Bumi Macakal yang konsepnya berbagi, seperti bagian kebun, kolam ikan, ruang duduk, dan ruang makan.



Macakal berasal dari bahasa sunda yang artinya self sufficient, dimana pemilik ingin menunjukan sisi kemandirian dalam hal air, pangan, energi dan pengelolaan sampah.


Untuk memenuhi kebutuhan pangan, Bumi Macakal menggarap kebun dengan prinsip permakultur. Tanaman yang ditanam beragam, mulai dari sayuran, buah, biji-bijian, umbi-umbian, tanaman obat hingga edible flower. Area kebun ini juga ditanami tanaman pembersih udara seperti lidah mertua dan sirih gading. Terdapat juga kolam ikan dan ayam petelur sebagai sumber pangan hewani.



Menariknya, untuk meminimalisir penggunaan air, tanaman-tanaman ini disiram dengan memanfaatkan air kolam yang ada di sekitarnya. Sementara air kolam ini berasal dari sistem irigasi tetes dengan memanfaatkan penampungan air hujan dalam toren air. Toren air ini mereka manfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kebutuhan mandi, mencuci, memasak hingga mereka minum. Air hujan ini sudah melalui serangkaian sistem filter yang diletakan di bawah rumah panggung, sehingga sudah terjamin keamanannya.


Adapun sumber listrik yang digunakan didapat dari instalasi panel surya dengan sistem off-grid. Bumi Macakal juga menggunakan energi dari sinar matahari sebagai solar oven-nya. Saat keadaan kemarau, solar oven mampu memanggang sale pisang dalam waktu satu hingga dua hari.



Tak ketinggalan, Bumi Macakal juga mengelola sampahnya secara mandiri. Sampah anorganik dipisah sesuai kategori untuk disetorkan ke bank sampah, sementara sisa residu yang tak laku terjual di manfaatkan menjadi ecobrick hingga isian bantal. 


Sampah organiknya juga diolah, kulit buah dimanfaatkan untuk membuat eco enzym dan ecowash, sampah dedaunan dimanfaatkan untuk mengisi lubang biopori, dan sampah sisa makan mereka jadikan pakan ayam dan maggot di belakang rumah. 


Benar-benar sudah terkonsep dan terintegrasi secara kompleks ya? Tak hanya sebagai rumah, Bumi Macakal juga seringkali mengadakan workshop hingga house tour untuk masyarakat dan anak-anak sekolah. Kalau kamu punya keinginan untuk ikutan, silahkan kunjungi Instagram Bumi Macakal atau subscribe kanal Youtubenya untuk update kegiatan dan jadwal workshop berikutnya.


65 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page