• amardikanto

Mengurangi Pencemaran Air dari Air Cucian: Grey Water Recycling



Ada bau yang khas kalau kita jalan di banyak daerah permukiman di Indonesia, terutama di permukiman yang padat. Bau got! hehehe, males ya. Tapi emang, kan? Lalu kenapa got kita bau gitu yah?


Ada air apa aja sih di selokan?


Di Indonesia, got atau selokan, atau secara teknis disebut saluran drainase, menampung air hujan dan air limbah cucian. Sistem ini disebut sistem tercampur atau combined system. Selain karena memang contoh ini merupakan peninggalan kolonial, sistem ini ada karena sistem pengelolaan air limbah domestik terpusat tidak banyak ada di Indonesia.


Sistem pengelolaan air limbah domestik terpusat berfungsi memisahkan air limbah rumah tangga dengan air hujan, membawa air limbah domestik dari rumah-rumah ke Instalasi Pengolahan Air Limbah, sehingga air limbah domestik dapat dengan aman dikembalikan ke lingkungan. Sistem ini menggunakan pipa-pipa yang ditanam di bawah tanah, yang sering kita lihat di film-film itu, yang diameternya bisa setinggi orang dewasa.


Air limbah domestik terdiri dari air limbah kakus, atau black water, dan air limbah non-kakus, atau yang disebut grey water. Grey water ini intinya sih adalah air limbah bekas cucian: cuci piring, cuci tangan, cuci baju, dan cuci badan atau mandi. Karena sistem pengelolaan terpusat belum banyak dibangun, biasanya black water di Indonesia masuk ke tangki septik, sedangkan grey waternya masuk ke selokan.


Pencemaran air dari air cucian rumah tangga


Trus kenapa sih air got itu kok berbau busuk? Kan cuma sisa mandi sama sisa cuci mencuci doang? Atau bahkan, kan sabun wangi, bisa bikin got wangi dong mestinya? Apa masalahnya memangnya jika busa dan air bekas sabunan mengalir ke got?


Untuk itu, kita perlu tau ada apa aja di dalam grey water kita. Air limbah cucian mengandung banyak macam substansi. Detergen bekas cuci baju kita mengandung bahan kimia dengan konsentrasi yang tinggi antara lain fosfat, surfaktan, amonia, nitrogen serta kadar padatan tersuspensi maupun terlarut. Komponen utamanya adalah surfaktan.


Apa itu surfaktan? Surfaktan (Surface acting agent) merupakan senyawa organik yang pada molekulnya memiliki gugus hidrofilik (suka air) dan gugus hidrofobik (suka minyak). Surfaktan berperan penting dalam zat pembersih karena dapat membantu melepaskan kotoran dan membawanya dalam air. Namun, surfaktan terbukti bersifat racun yang dapat menyebabkan matinya organisme air seperti plankton, sehingga dapat mengganggu kestabilan ekosistem.


Detergen juga mengandung fosfat yang merupakan sumber nutrisi bagi mikroorganisme di air. Tapi dengan masuknya fosfat dengan cara yang tidak alami seperti melalui detergen ini, kadar fosfat jadi berlebihan. Dan memang sekarang sudah berlebihan; sudah banyak penelitian yang membuktikan adanya pencemaran ini. Meningkatnya kandungan fosfat di badan air juga bisa dilihat dengan banyaknya tanaman eceng gondok di perairan. Kalau kadar fosfat berlebihan, pertumbuhan alga di air terpacu dan dampaknya bisa mengurangi sinar matahari yang masuk ke air dan menyerap oksigen yang terlarut di air lebih banyak. Dengan berkurangnya paparan sinar matahari dan berkurangnya oksigen di air, makhluk hidup di dalam air lainnya bisa akhirnya mati.


Trus kenapa got-nya bisa bau?


Makhluk hidup air yang mati ini menjadi materi organik yang akan diurai di air. Materi organik juga disumbang dari bawaan air limbah cucian dari rumah kita tadi. Misalnya, sisa masakan dan makanan kita yang terbawa air cucian, serpihan kulit kita yang terbuang saat mandi, dan bahan organik lainnya, yang semuanya tergabung dalam air limbah cucian atau grey water itu. Materi organik ini lalu terurai di dalam air. Proses penguraian ini memerlukan oksigen. Nah, oksigen di dalam air yang sudah berkurang karena tumbuhnya alga tadi, semakin berkurang karena dipakai untuk proses penguraian materi organik. Proses penguraian dengan oksigen yang kurang memang bisa menimbulkan bau. Coba aja deh, masukkan sisa masakan kamu ke toples, tutup, jangan masukkan ke kulkas, dan buka setelah 5 hari kemudian. Pasti bau! Nah seperti itulah penguraian materi organik yang kekurangan oksigen.


Sebenernya oksigen di udara bisa masuk ke air. Tapi, busa deterjen yang dibuang ke kali atau sungai menyebabkan kontak air dan udara menjadi terbatas sehingga menurunkan proses pelarutan oksigen kedalam air. Selain itu, kebiasaan buang sampah sembarangan membuat selokan juga jadi tempat sampah yang super panjang! Sampah yang ada di selokan juga punya efek yang sama dengan si busa tadi. Dia menghalangi oksigen dari udara masuk ke air, dan menghalangi sinar matahari masuk ke air. Hal ini memperparah kondisi oksigen di air tadi.


Oksigen di dalam air yang berkurang, dan proses penguraian materi organik dengan oksigen yang kurang inilah menyebabkan warna air selokan menjadi keruh dan menggelap, dan membuat baunya gak enak banget!


Apa yang mesti dilakukan dengan air cucian?


Jadi sebenernya mesti diapain ya si grey water ini? Sebenarnya ada beberapa teknik untuk mengolah grey water supaya gak jadi masalah. Daripada air cucian langsung dibuang yang endingnya bau busuk, mending kita manfaatin aja kan?


Air cucian itu bisa dimanfaatkan sebagai alternatif untuk mengatasi kekurangan air di wilayah perkotaan. Hasil olahan greywater bisa digunakan untuk keperluan non-potable alias bukan sebagai air minum, seperti menyiram tanaman, membilas toilet, mencuci kendaraan, dan kebutuhan out door lainnya. Air cucian yang sudah dikurangi materi organik dan zat pencemar lain juga sebenarnya bisa untuk recharge air tanah yang sudah banyak kita ambil dari sumur-sumur kita. Untuk teknologinya, ada cukup banyak bentuknya, tergantung pada tujuan pemanfaatan hasil olahan, biaya, dan lahan yang tersedia, antara lain:


1. Constructed Wetlands atau kolam sanita

Constructed Wetlands adalah teknologi pengolahan grey water dan juga pengolahan air keluaran dari tangki septik yang menggunakan proses alami dalam pengolahannya. Teknologi ini memanfaatkan penyaringan dari tanah, pasir, dan kerikil, serta memanfaatkan tanaman air dan mikroorganisme lain untuk menyerap nutrien seperti fosfat dan nitrogen yang ada di air limbah sehingga kandungan pencemar air limbah berkurang. Kelebihan teknologi ini adalah menciptakan lansekap yang baik berupa taman air.

2. Septic tank

Sesuai dengan SNI 2398:2017 tentang tata cara perencanaan tangki septik dengan pengolahan lanjutan, grey water juga bisa disalurkan ke tangki septik. Saat ini sudah ada tangki septik bio yang di claim memiliki kemampuan untuk mengurai kotoran dan mengurangi pencemar karena memiliki filter-filter di dalamnya, tidak hanya kompartemen pemisah seperti tangki septik biasa. Namun jangan lupa ya pastikan, tangki septik apapun tidak boleh bocor dan air limbah yang sudah terolah di tangki septik mesti ada pengolahan lanjutannya, seperti misalnya sumur resapan. Selain itu, pastikan juga tangki septik kita disedot secara berkala, menggunakan jasa penyedotan yang diakui pemerintah setempat.

3. Sumur Resapan


Sumur resapan adalah sumur atau lubang pada permukaan tanah yang digunakan untuk menampung air (air hujan, air cucian) dan meresapkannya ke dalam tanah. Sumur resapan berbeda dengan sumur air minum karena fungsinya yang berkebalikan. Saat diresapkan, grey water difilter secara alami oleh tanah. Di sumur resapan ini juga bisa ditambahkan ijuk, pasir, dan kerikil untuk menambah fungsi filter dari sumur resapan. Karena dapat mengurangi konsentrasi materi organik dan lainnya dalam grey water, sumur resapan dapat mengurangi pencemaran air permukaan dan air tanah, sekaligus mengurangi terjadinya banjir, dan air limbah yang diresapkan ke dalam tanah dapat mengganti air tanah yang diambil dari air sumur.


Di #MinisponsibleHouse, kami punya sistem khusus untuk menangani grey water dengan cara mendaurulang airnya kembali untuk dijadikan air flush toilet. Detail lengkapnya nanti di artikel berikutnya yah!


Sources

[1] Diana Novita at all. TOKSISITAS AKUT LIMBAH CAIR LAUNDRY DAN UJI SUBLETHAL TERHADAP IKAN NILA (Oreochromis niloticus). BERKALA PERIKANAN TERUBUK VOL 48 NO 1 FEBRUARI 2020.

[2] pupuklahan.blogspot.com.

[3] http://news.unair.ac.id/2020/05/05/bahaya-detergen-terhadap-populasi-plankton/

[4] https://kemenperin.go.id/artikel/20085/SNI-Detergen-Diubah


77 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua