Search Results
Search this site
402 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Gratitude, Growth, and Looking Ahead: A 2025 Reflection
Eco-lawgic is Denia's personal newsletter, initially published on LinkedIn and subsequently shared here as part of Cleanomic's archieve. As I wrote the final pages of my journal this year, one feeling stood out above all else: gratitude. My family, my team, and my friends are healthy and safe—and in a year marked by uncertainty, that is no small blessing. Many conversations in 2025 were shaped by global economic headwinds. Yet Indonesia continues to stand out as a relative bright spot. Coordinating Minister for Economic Affairs Airlangga Hartarto recently expressed confidence that Indonesia’s economic growth in Q4 2025 would be the strongest of the year, while Finance Minister Purbaya projected household consumption growth of around 5.5 percent in the same period. These signals matter—not as guarantees, but as reasons for cautious optimism. As we rush to close year-end matters before the holiday slowdown, I have not yet had the luxury of fully shaping my 2026 goals or building a proper vision board. Still, one thing is certain: I turn 40 next year (insyaAllah). That milestone has prompted deeper reflection on how intentionally I want to spend my time and energy—so that the work I do in my remaining productive years, and the legacy I leave behind, are truly worth standing behind. Before looking ahead, here are a few moments from 2025 that I am particularly grateful for. IPBA Chicago This year’s IPBA Annual Conference took place in Chicago—my first visit to the city. It was a highly productive week filled with meaningful meetings and long-overdue catch-ups with old friends and new connections. We met with the Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Chicago, under the Ministry of Trade, which plays a key role in promoting Indonesia–US Midwest trade. We also hosted a breakfast session with SIPAC members attending IPBA and a lunch meeting with Terralex members. Beyond the formal agenda, there were lighter moments too: a boat tour showcasing Chicago’s iconic architecture and, perhaps most memorably, a Cubs vs. Dodgers baseball game—complete with hot dogs and the full American experience. Baros Eco Villa Aldy and I finally completed our farmhouse and holiday home in Baros, Arjasari Village, south of Bandung. This year, we were able to host our first family and friends gatherings there—moments that felt deeply grounding. South of Bandung holds personal meaning for me. It is my mother’s hometown, a place I visited every school holiday growing up. Today, my parents split their time between there and Jakarta, while my extended family remains nearby. Working with Serasa Architect, we designed the villa as a bioclimatic house, integrating sustainable materials and features—an embodiment of values we want to live by, not just talk about. Podcast with Luminishan When Shafira invited me to join her podcast, Luminishan , I did not hesitate. It was a privilege to engage with a community of thoughtful women who are confident in their faith and unafraid to discuss life’s values from multiple perspectives. In this episode, I shared my personal journey of learning Islamic values and how they inform our responsibility toward the environment. I spoke about the moment that shifted my perspective—realizing how pollution and waste would shape the world my children inherit—and how faith continues to anchor my purpose and decisions. Farewell Wisma GKBI, Hello Mori Tower After more than 30 years at Wisma GKBI, S&T is preparing to move to Mori Tower in 2026. Earlier this year, we gathered hundreds of alumni for one final event in the GKBI building—a deeply nostalgic and joyful evening. Alongside this transition, I have been closely involved in shaping the design and new branding identity of our future office. I am genuinely excited to begin 2026 in a new space, with renewed energy and a sense of fresh beginnings. I look forward to welcoming many of you there. Carbon Conversation This year, I had several opportunities to engage in discussions on carbon policy and markets. Most recently, I attended a session organized by Association of Carbon Emission Experts Indonesia - ACEXI at the House of Parliament on Presidential Regulation No. 110 of 2025, which fundamentally reshapes Indonesia’s carbon governance framework. This regulation marks a significant shift, and I look forward to sharing more detailed insights on its implications soon. SIPAC China Roadshow With Sino International Professional Advisory Council (SIPAC) , I traveled to Beijing, Shanghai, and Shenzhen. In Shenzhen, I experienced a driverless robot taxi for the first time and saw food deliveries made by drone—technologies that no longer feel futuristic, but imminent. From our discussions, it is clear that 2025 marks the early phase of massive investment into robotics and AI, reminiscent of where the EV industry stood five years ago. Today, China has hundreds of EV manufacturers—a powerful reminder of how quickly an ecosystem can scale once momentum builds. ** As we close the year, my thoughts are also with friends and communities in Sumatra affected by recent disasters. If you are able, please consider donating or supporting relief efforts in any way you can. Thank you for being part of my journey this year—through conversations, collaborations, and shared learning. Wishing you and your loved ones a safe, restful holiday season. See you again in 2026.
- Jejak Sawit, Deforestasi, dan Biodiesel
Kelapa Sawit, Deforestasi, Biodiesel, dan Tantangan Sustainability yang Tak Pernah Selesai Dalam beberapa waktu terakhir, banjir bandang kembali melanda berbagai wilayah di Sumatra. Dampaknya tidak main-main: rumah rusak, akses terputus, lahan pertanian hancur, dan kehidupan masyarakat terguncang. Setiap kali bencana ini terjadi, pertanyaan yang sama kembali muncul: ini murni bencana alam, atau hasil dari akumulasi kebijakan dan praktik pembangunan yang keliru? Isu ini bukan hal baru. Bahkan, Cleanomic sudah membahas benang merahnya di tahun 2021 — dan sayangnya, diskusi-diskusi itu kini terasa semakin relevan. Kelapa Sawit dan Deforestasi: Isu Lama, Dampak Nyata Kelapa sawit sering berada di persimpangan yang rumit. Di satu sisi, ia adalah tulang punggung ekonomi nasional, penyerap tenaga kerja, dan sumber devisa. Di sisi lain, ekspansi yang tidak terkendali, pembukaan lahan tanpa tata kelola yang baik, serta lemahnya pengawasan, berkontribusi pada deforestasi dan degradasi ekosistem. Dalam podcast dan tulisan Cleanomic bersama Madani Berkelanjutan beberapa tahun lalu, isu ini sudah dibedah secara jujur: 👉 Kelapa Sawit yang Sustainable; Bisa Gak Sih? dan bisa kamu dengerin podcastnya disini: Diskusi tersebut menegaskan bahwa masalahnya bukan pada sawit itu sendiri , melainkan pada bagaimana sawit dikembangkan. Ketika hutan alam dan daerah resapan air dikonversi, risiko banjir dan longsor meningkat drastis. Dan hari ini, Sumatra kembali membayar mahal harga dari praktik yang tidak berkelanjutan. Biodiesel: Solusi Iklim atau Masalah Baru? Program biodiesel—mulai dari B30 hingga B35—sering dipromosikan sebagai solusi transisi energi dan pengurang emisi. Namun pertanyaannya: apakah biodiesel benar-benar lebih ramah lingkungan jika hulu sawitnya masih bermasalah? Cleanomic telah mengulas ini secara mendalam melalui beberapa diskusi dan artikel: Biodiesel 101 BBN: Apakah Menguntungkan dan Lebih Bersih? Intinya sederhana tapi krusial: bahan bakar terbarukan tidak otomatis berkelanjutan . Jika peningkatan permintaan biodiesel justru mendorong ekspansi sawit ke hutan dan lahan gambut, maka klaim hijau tersebut menjadi paradoks. Emisi boleh turun di hilir, tapi naik besar-besaran di hulu. Sustainable Supply Chain: Ideal di Konsep, Berat di Lapangan Isu keberlanjutan juga tidak berhenti di level kebijakan. Di lapangan, banyak brand lokal yang berjuang membangun rantai pasok berkelanjutan —menggunakan bahan baku lokal, memastikan praktik etis, dan meminimalkan dampak lingkungan. Cleanomic pernah mengangkat langsung pengalaman ini lewat diskusi tentang ethical sourcing bersama pelaku usaha lokal. Ceritanya penuh suka dan duka: biaya lebih mahal, proses lebih panjang, edukasi konsumen yang belum selesai. Namun justru di sinilah terlihat bahwa sustainability bukan jargon, melainkan komitmen yang menuntut konsistensi. Saatnya Mendengar Kembali, Bukan Sekadar Bereaksi Banjir bandang di Sumatra seharusnya tidak hanya kita respon dengan bantuan darurat dan narasi “cuaca ekstrem”. Ini adalah alarm struktural —tentang tata kelola lahan, arah kebijakan energi, dan pilihan ekonomi yang kita ambil bersama. Kalau kamu ingin memahami konteksnya lebih utuh, Cleanomic mengajak kamu untuk mendengarkan ulang podcast-podcast di atas yang membahas agar kita bisa lebih paham tentang isu: sawit berkelanjutan, biodiesel dan kebijakan energi, hingga tantangan rantai pasok ramah lingkungan. Diskusi-diskusi itu bukan nostalgia. Ia adalah pengingat bahwa banyak jawaban sebenarnya sudah ada — tinggal apakah kita mau benar-benar mendengarkan dan bertindak sebelum bencana berikutnya datang.
- The Radiance of Responsibility: Amanah, Iman, dan Tanggung Jawab Menjaga Bumi
Kolaborasi Cleanomic x Luminihsan Di tengah krisis iklim, polusi, dan kerusakan lingkungan yang makin terasa sehari-hari, obrolan soal sustainability rasanya sudah tidak cukup lagi kalau hanya dibahas dari sisi teknis, data, atau kebijakan. Kita juga perlu bicara soal hal yang lebih dalam: iman, nilai hidup, dan rasa tanggung jawab sebagai manusia . Inilah yang menjadi benang merah dalam kolaborasi Cleanomic dan Luminihsan lewat podcast “The Radiance of Responsibility” — sebuah ruang ngobrol yang mempertemukan spiritualitas Islam dengan praktik keberlanjutan di kehidupan nyata. Mengenal Luminihsan: Cahaya dalam Refleksi Kehidupan Luminihsan adalah platform yang menghadirkan percakapan reflektif tentang iman, kehidupan, dan peran manusia sebagai hamba sekaligus penjaga bumi. Lewat konten audio-visual yang hangat dan jujur, Luminihsan mengajak kita untuk melihat kembali nilai-nilai Islam dalam konteks kehidupan modern — mulai dari keluarga, peran sosial, sampai pilihan hidup sehari-hari. Saat tim Luminihsan menghubungi Minomic untuk berkolaborasi, rasanya langsung klik. Bukan cuma karena format podcast-nya, tapi karena nilai yang dibawa sejalan : bahwa iman tidak berhenti di ibadah ritual, tapi harus terasa dalam cara kita hidup dan memperlakukan alam. Dari Keresahan Personal hingga Lahirnya Cleanomic Dalam obrolan bersama Nila Patty , Minomic berbagi cerita soal momen yang jadi titik balik. Sebagai seorang ibu, Minomic mulai bertanya: dunia seperti apa yang sedang kita siapkan untuk anak-anak kita? Polusi, sampah, krisis iklim, dan eksploitasi alam bukan lagi isu jauh atau abstrak. Semua itu hadir di udara yang kita hirup, makanan yang kita konsumsi, dan lingkungan tempat anak-anak kita tumbuh. Dari keresahan itu, Cleanomic lahir — sebagai media, platform riset, dan ruang edukasi yang mencoba menjembatani isu lingkungan dengan kebijakan, bisnis, dan kehidupan sehari-hari. Tantangannya jelas tidak mudah. Bukan cuma soal menyampaikan data atau regulasi, tapi bagaimana membuat isu sustainability terasa dekat, relevan, dan manusiawi . Spiritualitas dan Sustainability: Amanah sebagai Titik Temu Bagian yang paling bermakna dari podcast ini adalah ketika membahas bagaimana Islam memandang hubungan manusia dengan bumi . Dalam Islam, manusia adalah khalifah fil ardh — penjaga, bukan pemilik mutlak. Alam adalah amanah dari Allah , bukan sesuatu yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Nilai-nilai seperti: tidak berlebihan ( israf ), keadilan ( adl ), keseimbangan ( mizan ), dan tanggung jawab antar generasi ternyata sangat selaras dengan prinsip sustainability yang hari ini banyak dibahas. Menjaga Bumi sebagai Ibadah Podcast ini juga jadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar gaya hidup hijau. Ini adalah bagian dari tanggung jawab spiritual. Ketika kita mengurangi sampah, lebih sadar dalam konsumsi, atau mendukung kebijakan yang lebih adil terhadap alam, itu semua bisa bernilai ibadah — kalau dilakukan dengan niat yang benar. Bagi Minomic, kolaborasi dengan Luminihsan ini bukan hanya konten, tapi juga ruang refleksi. Pengingat bahwa apa yang kita kerjakan hari ini, sekecil apa pun, punya dampak yang jauh ke depan — bahkan sampai ke akhirat. Tonton Podcast Lengkapnya Kalau kamu ingin menonton percakapan lengkap “The Radiance of Responsibility” bersama Luminihsan, kamu bisa langsung cek di YouTube lewat link berikut: Semoga obrolan ini bisa jadi pengingat bahwa cahaya tanggung jawab itu selalu ada — hidup dalam iman, pilihan, dan tindakan kecil yang kita lakukan setiap hari.
- Carbon Series Episode 2: Apa Itu Gas Rumah Kaca dan Bagaimana Mekanisme Perdagangan Karbon?
Yuk kita bahas fondasinya pasar karbon dulu: apa itu GRK , kenapa jadi masalah global, dan bagaimana kaitannya dengan perdagangan karbon. Apa Itu Gas Rumah Kaca (GRK)? Menurut regulasi, Gas Rumah Kaca (GRK) adalah gas-gas di atmosfer—baik alami maupun hasil aktivitas manusia (antropogenik)—yang menyerap dan memancarkan kembali radiasi inframerah. Contoh GRK utama: Karbon dioksida (CO₂) Metana (CH₄) Nitrous oksida (N₂O) Gas lain dalam jumlah lebih kecil GRK muncul dari aktivitas seperti: Pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, batu bara) Deforestasi Pertanian Limbah & industri Secara teknis, jenis GRK banyak, tapi dalam percakapan sehari-hari sering disederhanakan menjadi “emisi CO₂” saja. Kenapa GRK Jadi Masalah? GRK membentuk lapisan yang menahan panas matahari di atmosfer.Dalam kondisi normal, panas matahari akan kembali keluar ke angkasa.Tetapi karena lapisan GRK ini semakin tebal, panas terjebak dan dipantulkan kembali ke permukaan bumi. Inilah yang kita sebut: Efek Rumah Kaca Pemanasan Global Climate Change Analogi simpelnya: seperti ketika kita berada di dalam rumah kaca—panasnya terperangkap dan semakin meningkat. Kenapa Dunia Sepakat Membatasi Pemanasan ke 1.5°C? Di Paris Agreement, ilmuwan global mengingatkan bahwa dunia tidak boleh melebihi kenaikan 1.5°C . Bayangkan suhu bumi seperti suhu tubuh manusia: Suhu normal: 36–37°C Naik 0.5°C saja → demam Naik ke 38–39°C → tidak normal Naik ke 40°C → bisa fatal Bumi juga begitu. Sedikit kenaikan berdampak besar pada: Cuaca ekstrem Gagal panen Krisis air Kerusakan ekosistem Kenaikan permukaan air laut Dua studi global menunjukkan 2024 mencatat rekor panas yang mengindikasikan bumi sudah melewati ambang 1.5°C—walau belum merupakan penilaian resmi (karena Paris Agreement memakai rata-rata jangka panjang), tetapi tetap menjadi alarm keras . Kalau Emisinya Masalah, Kenapa Perdagangan Karbon Jadi Solusi? Perdagangan karbon adalah jual beli UNIT KARBON , yaitu: 1. Sertifikat Pengurangan Emisi (SPE GRK) Hasil reduksi atau penyerapan emisi yang sudah diverifikasi (domestik/internasional). 1 SPE = 1 ton CO₂e yang berhasil dikurangi/ diserap . 2. Kuota Emisi GRK Jatah maksimal emisi yang boleh dilepas oleh perusahaan tertentu. 1 Kuota = izin mengeluarkan 1 ton CO₂e . Dua instrumen inilah yang diperjualbelikan dalam pasar karbon . Siapa yang Membeli SPE GRK? Biasanya perusahaan yang: Menghasilkan emisi besar Punya target net zero atau komitmen ESG Sedang dalam masa transisi teknologi Belum bisa langsung mengubah proses produksinya Contoh: Sebuah pabrik mengeluarkan 50 ton CO₂ per tahun.Untuk offset , perusahaan membeli 50 SPE GRK yang membiayai proyek karbon di tempat lain yang menyerap 50 ton CO₂. Ibaratnya: “menebus” jejak karbonnya. Makanya ada istilah: Carbon credit is a “right to pollute” — hak untuk mencemari, selama dibayar dan di-offset. Dengan harga karbon di Indonesia yang relatif murah, banyak perusahaan akhirnya: membeli kredit karbon tanpa benar-benar mengubah praktik bisnisnya Padahal idealnya: Kurangi emisi internal dulu Transisi teknologi Baru gunakan kredit karbon sebagai finishing touch Tapi kita juga paham—transisi membutuhkan waktu, investasi, dan kesiapan teknologi. Maka, carbon credit jadi jembatan sementara. Bagaimana dengan Kuota Emisi GRK? Untuk kuota, pemerintah menetapkan batas maksimal emisi sektor tertentu. Jika: Perusahaan A melebihi kuota → harus beli kuota dari perusahaan lain Perusahaan B berhasil menekan emisi → dapat menjual sisa kuota Ini menciptakan: Insentif finansial bagi perusahaan yang beralih ke teknologi rendah karbon Return on investment untuk biaya transisi (R&D, peralatan baru, dll.) Tapi... Pasar Karbon Tidak Bisa Berjalan Sendiri Agar adil dan efektif, ekosistem karbon harus disertai: Regulasi ketat Carbon pricing yang sesuai Mandatory disclosure MRV yang kuat Kebijakan komplementer lainnya Tujuannya sederhana: Bukan hanya membeli offset, tapi benar-benar mengurangi emisi aktual . Penutup: Episode 3 Akan Kupas Instrumen Pasar Karbon Secara Lebih Detail Ini baru permukaan dari dunia carbon market.Di episode berikutnya, kita akan bahas: jenis-jenis proyek karbon vbagaimana perusahaan memutuskan strategi karbon dan bagaimana semua ini berhubungan dengan Perpres 110/2025 Kalau ada pertanyaan atau topik yang mau dibahas, tulis di komentar ya!
- Carbon Series Episode 1: Sejarah Perdagangan Karbon & Kenapa Indonesia Mulai Gaspol?
Presiden Prabowo baru saja menerbitkan kebijakan baru terkait karbon melalui Perpres No. 110 Tahun 2025 . Aturan ini menandai langkah besar pemerintah untuk memperkuat ekosistem pasar karbon Indonesia. Karena topiknya makin relevan, Cleanomic membuat Carbon Series —rangkaian konten untuk membantu masyarakat memahami apa itu karbon, bagaimana mekanisme perdagangannya, dan mengapa ini penting dalam agenda iklim nasional. Kenalan Dulu: Apa Itu “Karbon” yang Diperdagangkan? Banyak orang masih bingung: “Apa sih yang diperjualbelikan dalam pasar karbon?” “Benarkah perdagangan karbon membantu lingkungan?” “Kenapa pemerintah serius mempersiapkan ekosistem karbon nasional?” Sebelum masuk ke mekanisme teknis—seperti offset , carbon credit , dan cap-and-trade —kita mulai dari sejarahnya dulu. Perjalanan Panjang Dunia Menghadapi Krisis Iklim Sebelum Indonesia menetapkan komitmen pengurangan emisi dalam Paris Agreement 2015 , dunia sudah melalui proses panjang untuk memahami bahwa krisis iklim itu nyata. 1972 – Stockholm Conference: Titik Awal Kesadaran Global Stockholm Conference adalah konferensi lingkungan global pertama .Untuk pertama kalinya, negara-negara setuju bahwa: “Planet kita sedang menghadapi masalah lingkungan serius.” Tanggal konferensi ini (5 Juni) akhirnya ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia . Indonesia hadir melalui Prof. Emil Salim—yang kemudian menjadi Menteri Lingkungan Hidup pertama . Lalu Indonesia menerbitkan UU No. 4 Tahun 1982 sebagai tonggak awal pengelolaan lingkungan hidup nasional. 1992 – Earth Summit, Rio Declaration, dan Agenda 21 Diskusi global semakin intens. Negara-negara mulai menetapkan prinsip pembangunan berkelanjutan. 1997 – Kyoto Protocol Untuk pertama kalinya ada komitmen pengurangan emisi yang bersifat mengikat bagi negara maju. 2015 – Paris Agreement Inilah kesepakatan terbesar. Semua negara—maju maupun berkembang—wajib berkontribusi menurunkan emisi. Indonesia: Dari Inventarisasi Emisi hingga Komitmen Penurunan Emisi Untuk bisa punya target pengurangan emisi yang jelas, Indonesia harus punya data baseline dulu. 1. Kewajiban Inventarisasi Emisi GRK Sesuai UU 32/2009, pemerintah pusat dan daerah wajib menghitung dan melaporkan emisi gas rumah kaca. Bayangin ribetnya sinkronisasi data seluruh Indonesia sebelum ada sistem online seperti sekarang! 2. RAN-GRK, RAD-GRK, hingga RPJMN Dokumen ini memastikan agenda iklim masuk ke dalam kebijakan pembangunan nasional. 3. Target Penurunan Emisi Indonesia Awalnya dalam Paris Agreement: 29% (upaya sendiri) 41% (dengan dukungan internasional) pada tahun 2030 Target ini kemudian di-upgrade menjadi: 43% pada 2030 60% pada 2035 atau setara dengan 458 juta ton CO₂ Dengan target setinggi ini, Indonesia wajib memperkuat semua strategi penurunan emisi, termasuk transisi energi dan ekosistem nilai ekonomi karbon. Kenapa Pasar Karbon Penting? Karbon bukan solusi tunggal untuk krisis iklim—tapi merupakan salah satu instrumen ekonomi yang membantu negara mencapai target pengurangan emisi. Beberapa sektor utama penyumbang emisi Indonesia: Energi (55%) Limbah Pertanian Kehutanan & kelautan Industri proses Transportasi Dari sini terlihat jelas: tanpa kebijakan berbasis data dan mekanisme ekonomi , target penurunan emisi sulit tercapai. Di Episode Selanjutnya… Kita akan membahas: Apa yang sebenarnya diperjualbelikan di pasar karbon? Apa bedanya carbon credit dan carbon offset ? Bagaimana Perpres 110/2025 akan mengubah ekosistem karbon Indonesia? Punya pertanyaan?Tulis di kolom komentar—aku akan jawab di episode berikutnya.
- Apa sih COP, dan Kenapa Semua Negara Ngumpul di Brasil?
Mulai hari ini dan minggu depan, para pejabat tinggi negara dari seluruh dunia akan berkumpul di Belém, Brasil , untuk menghadiri COP30 dari mulai rangkaian World Leaders Meeting pada 6–7 November, dan dilanjutkan dengan sesi utama dari Senin, 10 November hingga Jumat, 21 November 2025 untuk bahas nasib keberlanjutan agenda iklim dunia. Nah, apa sih COP itu? [the Guardian] COP adalah singkatan dari Conference of the Parties, yaitu konferensi tahunan di bawah United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Kata “Parties” merujuk pada hampir 200 negara yang menandatangani perjanjian iklim PBB pada tahun 1992. COP30 berarti konferensi ke-30, di mana negara-negara dunia berkumpul untuk mendiskusikan tantangan dan komitmen dalam mengatasi perubahan iklim. COP pertama (COP1) diadakan di Berlin tahun 1995, yang menghasilkan mandat bagi negara-negara peserta untuk mulai membicarakan pengurangan emisi gas rumah kaca secara lebih spesifik dan serius. Tahun berikutnya, COP2 diadakan di Jenewa, dan memperkuat posisi ilmiah dari laporan-laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). Perlu dicatat, IPCC sendiri sudah dibentuk lebih dulu pada tahun 1988 oleh World Meteorological Organization dan UN Environment Programme untuk menyediakan dasar ilmiah bagi kebijakan iklim dunia. Lalu pada tahun 1997, COP3 di Kyoto, Jepang, menghasilkan Protokol Kyoto — salah satu tonggak sejarah penting karena memuat kewajiban bagi negara-negara industri untuk menurunkan emisi GRK. Protokol ini mulai berlaku setelah diratifikasi oleh sedikitnya 55 negara, termasuk Indonesia. Tujuannya: menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang tidak membahayakan sistem iklim bumi. Indonesia juga pernah menjadi tuan rumah COP, yaitu pada COP13 di Bali tahun 2007. Konferensi ini melahirkan Bali Action Plan, yang memperluas cakupan pengurangan emisi — tidak hanya dari deforestasi ( RED atau Reducing Emissions from Deforestation ), tapi juga dari degradasi hutan ( REDD atau Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation ). Perbedaannya, deforestasi adalah perubahan permanen dari areal berhutan menjadi tidak berhutan, sedangkan degradasi hutan berarti penurunan kualitas tutupan hutan dan stok karbon selama periode tertentu. Keduanya sama-sama disebabkan oleh aktivitas manusia. Kenapa COP30 ini penting? Pada COP21 di Paris tahun 2015, hampir 200 negara sepakat untuk membatasi kenaikan suhu global di bawah 2°C dan berupaya keras menahannya di 1,5°C dibandingkan era pra-industri. Ilmuwan dunia sepakat bahwa dampak perubahan iklim—seperti gelombang panas ekstrem, kekeringan, dan naiknya permukaan laut—akan jauh lebih parah jika suhu naik sampai 2°C. Menjelang COP30, negara-negara diharapkan telah menyerahkan rencana aksi terbaru mereka tentang bagaimana mereka akan menurunkan emisi gas rumah kaca. Indonesia sendiri sudah menyerahkan Updated Second NDC (Nationally Determined Contribution) — dan kalian bisa cek postingan dari Think Policy ini untuk ringkasan isinya: Agenda Indonesia di COP30 Menteri Lingkungan Hidup, Pak Hanif bersama tim, menyampaikan bahwa Indonesia datang ke Belém bukan sebagai penonton, melainkan penggerak — membawa regulasi, kemitraan, dan target yang terukur. Prioritas Indonesia di COP30 meliputi: penguatan kemitraan internasional dan akses ke pasar karbon yang berintegritas, advokasi pertumbuhan ekonomi hijau, serta pendanaan iklim yang berimbang antara mitigasi dan adaptasi. Indonesia juga menampilkan potensi besar pasar karbon nasional — dengan sekitar 40 proyek karbon ditawarkan di COP30 untuk menarik pendanaan internasional.Pemerintah menekankan peran sektor kehutanan sebagai pendorong utama penurunan emisi, sementara sektor energi masih dalam masa transisi. Dalam kebijakan ini, Indonesia juga mengelola 12,7 juta hektare kawasan hutan untuk mendorong ekonomi hijau berbasis masyarakat. Delegasi Indonesia akan ikut serta dalam berbagai agenda diskusi dan negosiasi tentang langkah konkret menuju transisi energi bersih yang adil ( just energy transition ), kolaborasi teknologi, serta upaya adaptasi dan mitigasi yang seimbang, dan masih banyak lagi. Info lebih lanjut Untuk info lebih lanjut kalian bisa cek website resmi COP30 dan juga bisa dengerin seri podcast INSIDE COP dari Outrage + Optimism: The Climate Podcast — yang jadi salah satu podcast resmi COP30 Brasil , untuk ngikutin langsung dinamika dan negosiasi yang terjadi di lapangan.
- Festival Jejak Pangan Lestari 2025: Merayakan Kekayaan Pangan Nusantara
Weekend lalu, tim Minomic berkesempatan menghadiri Festival Jejak Pangan Lestari 2025 di Taman Ismail Marzuki. Acara ini diselenggarakan oleh Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) dalam rangka merayakan Hari Pangan Sedunia yang jatuh setiap 16 Oktober. Ini bukan sekadar perayaan biasa, tapi momen penting untuk mengingatkan kita semua bahwa Indonesia memiliki kekayaan pangan yang luar biasa. Ini adalah modal besar untuk membangun sistem pangan Nusantara yang lestari. Gala Dinner: Perjalanan Rasa Nusantara entree Puncak acara yang paling dinanti adalah Gala Dinner dengan menu 3 course meal yang spektakuler. Bayangkan, seluruh hidangan dibuat dari bahan pangan dan resep tradisional Indonesia yang sudah diriset mendalam oleh Nusa Indonesia Gastronomy Foundation dan dimasak dengan penuh cinta oleh Chef Ragil. Yang bikin acara ini spesial adalah cara Chef Ragil mengingatkan kita bahwa Indonesia sudah kaya akan hidangan plant-based dan blue food diet sejak dulu—makanan leluhur kita! Jadi semua yang sekarang lagi tren di mana-mana, ternyata udah jadi bagian dari kuliner tradisional kita. Menu yang Bikin Takjub Pre-appetizer-nya sudah memanjakan lidah dengan soda bunga telang, dadeh bo itek (mini telur dadar dari Aceh), nurhosoori (hidangan kerang dari Papua dengan sagu dan saus kecombrang foam), dan bakwan jantung pisang khas Gorontalo. Untuk appetizer, ada lawar kepiting dengan urap dan latoh (rumput laut) dari Bali yang menunjukkan betapa kayanya tradisi kuliner pesisir kita. Appetizer Main course-nya? Absolutely mind-blowing! Smoked tuna dengan resep kari dari Bangka Belitung, golini tutu dari Pulau Nias, plus mashed breadfruit dan pisang muda sebagai pengganti nasi. Ya, kamu nggak salah baca—karbohidrat dari sukun dan pisang muda yang rasanya kayak mashed potato tapi jauh lebih enak! Jamur Pelawan: Si Raja dari Belitung Highlight utama yang bikin semua orang takjub adalah jamur Pelawan atau thunderstorm mushroom. Jamur ini cuma ditemukan di Pulau Belitung dan tumbuhnya unik banget—hanya setelah hujan petir! Kabar baiknya, masyarakat adat di sana baru-baru ini berhasil mendorong pemerintah untuk menjadikan hutan pelawan sebagai hutan konservasi. Fun fact: jamur ini banyak diimpor dan kalau lagi nggak musim, harganya bisa tembus 4 juta per kilo! Dessert Dessert-nya juga nggak kalah istimewa dengan coated chocolate klaper tart dari Aceh, kacang kenari dan pandan gelato dari Halmahera, plus meringue dari gula aren dan melinjo. Ada juga cokelat andalima dan bagea cookies dari Indonesia Timur. Takeaway yang Bikin Pengen Action Dari acara ini, kami jadi makin sadar bahwa Indonesia punya banyak banget alternatif pangan, terutama karbo selain nasi—ada sorgum, juwawut, dan berbagai umbi-umbian lain yang layak dicoba! Yuk, Mulai Eksplorasi! Gimana, tertarik untuk mulai eksplorasi kekayaan pangan lokal Indonesia? Mari kita dukung sistem pangan lestari dengan mulai mengenal dan mengonsumsi bahan pangan lokal. Share cerita #CuanLestari kamu di kolom komentar atau tag kami di media sosial! Untuk inspirasi bisnis dan gaya hidup berkelanjutan lainnya, jangan lupa eksplorasi cleanomic.co.id . Kesimpulan: Menuju Masa Depan yang Berkelanjutan Dengan menghadiri Festival Jejak Pangan Lestari 2025, saya merasa terinspirasi untuk lebih memperhatikan pilihan pangan saya. Mengapa tidak kita semua berkontribusi pada keberlanjutan? Mari kita mulai dengan langkah kecil, seperti memilih bahan pangan lokal dan mendukung produk yang ramah lingkungan. Setiap tindakan kecil dapat memberikan dampak besar. Apakah kamu siap untuk bergabung dalam perjalanan ini?
- Naturalist Hub Dramaga: Ngopi Sambil Menjaga Alam ☕
Di Dramaga, Bogor, ada sebuah kafe yang mengubah cara kita menikmati kopi. Namanya Naturalist Hub — tempat di mana secangkir kopi bisa menjadi langkah kecil untuk menyelamatkan satwa liar Indonesia. 🌿 🌱 Kopi Ramah Satwa Setiap kopi yang disajikan di Naturalist Hub sudah bersertifikat wildlife-friendly. Artinya, biji kopi berasal dari perkebunan yang menjaga habitat alami satwa liar — tanpa membuka hutan baru atau mengusir penghuninya. Dengan setiap tegukan kopi, kamu ikut mendukung sistem pertanian yang berkelanjutan dan adil untuk petani serta alam. 🦥 Melindungi Kungkang Jawa Salah satu fokus utama Naturalist Hub adalah melindungi kungkang Jawa (Javan Slow Loris), satwa endemik yang kini terancam punah akibat kehilangan habitat dan perdagangan ilegal. Melalui kemitraan dengan petani kopi, Naturalist Hub mendorong perkebunan kopi ramah satwa liar yang tetap menyediakan naungan dan makanan bagi hewan-hewan hutan. Kopi ini ditanam dan diproses oleh Petani di Desa Cipaganti dan Desa Pangauban di kaki Gunung Papandayan Garut, Jawa Barat. 📚 Kafe yang Penuh Cerita Naturalist Hub bukan sekadar tempat ngopi — tapi juga pusat edukasi dan komunitas pecinta lingkungan. Di sini kamu bisa menikmati: Buku, poster, dan pameran edukasi satwa liar, Berbagai merchandise lucu yang bertemakan satwa liar, Galeri mini dan karya seni konservasi, Acara edukasi mingguan, seperti bincang konservasi, kelas anak, dan tur kebun. 💚 Drink Coffee, Save Wildlife Naturalist Hub membuktikan bahwa bisnis bisa tumbuh tanpa merusak alam. Dengan membeli kopi di sini, kamu ikut mendukung: ✅ Petani kopi lokal yang berkomitmen menjaga lingkungan, ✅ Praktik pertanian berkelanjutan, ✅ Edukasi publik tentang konservasi dan gaya hidup hijau. Follow akun instagram Naturalist Hub untuk info lebih lanjut!
- Liberty Society : Bisnis Yang Menggabungkan Keberlanjutan Dengan Pemberdayaan Perempuan
Dalam dunia bisnis yang semakin sadar lingkungan, sebagian besar perusahaan merasa perlu untuk mempertimbangkan dampak lingkungan dari operasi mereka. Namun, ada juga perusahaan yang pergi lebih jauh dengan menjadi perusahaan sosial yang berfokus pada produk ramah lingkungan dan berdampak sekaligus berperan dalam memperdayakan perempuan marginal dan pengungsi. Liberty Society salah satunya, Perusahaan sosial yang menggabungkan keberlanjutan dengan pemberdayaan perempuan marginal dan pengungsi. Didirikan pada tahun 2019 oleh Tamara Wu, Karen dan Sharon memiliki misi memberdayakan perempuan marginal dan pengungsi di Indonesia melalui pelatihan menjahit dan pembuatan produk. Terdapat lebih dari 200 pengungsi dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika yang berlokasi di Serpong, liberty society memberikan perlindungan dan penghidupan bagi mereka. Rumah Produksi Liberty Society dinamakan dengan “House Of Freedom”, disana menyediakan pelatihan menjahit serta bahasa, seni, dan kelas pengayaan lainnya untuk perempuan dan anak-anak mereka. Sumber daya lain yang disediakan adalah distribusi makanan, lokakarya pendidikan serta pertemuan komunitas untuk membina komunitas. Model pelatihan-untuk-ketenagakerjaan yang berarti bagi mereka menempatkan setiap perempuan pada jalur untuk mendapatkan upah yang layak dan menjadi produktif setidaknya 40 jam seminggu. 10% dari keuntungan mereka diinvestasikan ke dalam “House Of Freedom” yang mendukung peserta pelatihan perempuan pengungsi sehingga mereka dapat terus belajar dan berkreasi. Mereka memberikan kembali tujuan dan martabat bagi pengungsi dan komunitas yang kurang beruntung, untuk meningkatkan pendapatan dan penghidupan mereka secara keseluruhan. Tidak hanya memberikan dampak baik terhadap sosial, Liberty Society memberikan dampak baik juga terhadap lingkungan menyediakan jasa upcycling untuk mendorong ekonomi sirkular, dengan mendaur ulang imbah industri tekstil & plastik menjadi produk baru yang fungsional dan bernilai tambah, jasa ini melibatkan brainstorming ide dan diskusi desain produk untuk mengubah sampah menjadi barang fungsional. Pada pembuatan produknya Liberty Society menggunakan bahan eco friendly. Kain yang digunakan dalam produk fashion Liberty Society kain bersertifikat Tencel atau Lenzing dan Katun Bambu. selain itu mereka juga memastikan kain perca atau limbah kain dari produksi dimanfaatkan kembali untuk pelatihan oleh anggota. Tidak hanya itu kemasan yang digunakan untuk pengiriman menggunakan kantong singkong untuk menutup setiap barang, Kemasan ramah lingkungan ini dapat dijadikan kompos dan menjadi pupuk bagi tanaman dan menggunakan card boxes untuk pengiriman, sehingga meminimalkan sampah plastik. Mereka juga berkolaborasi dengan pengrajin lokal untuk pembuatan produk Gifts by Liberty Society dan perusahaan ternama untuk bisa menyampaikan pesan mereka lebih luas tentang pemberdayaan perempuan serta menyelamatkan lingkungan melalui produksi produk yang ramah lingkungan. Liberty Society telah berkolaborasi dengan Perusahaan seperti CIMB Niaga dengan memberikan edukasi kepada masyarakat luas tentang bagaimana mengubah sampah sehari-hari menjadi produk sehari-hari, selaras dengan nilai keberlanjutan melalui pertemuan tahunan “The Cooler Earth”. Lalu dengan Uniqlo Indonesia mereka berkolaborasi untuk mengubah sisa potongan denim menjadi aksesori daur ulang yang baru. dan mereka berhasil membuat tempat kartu dan kantong daur ulang dari potongannya. Kolaborasi ini sekaligus mempromosikan fesyen berkelanjutan dan pemberdayaan perempuan melalui keterlibatan para pembuatnya. Liberty Society bekerja sama dengan komunitas pengungsi di Indonesia dan memberikan mereka pelatihan yang mereka butuhkan untuk menjadi produktif. Masih banyak lagi Kolaborasi yang dilakukan oleh Liberty Society kalian bisa cek disini. Bisnis yang menggabungkan keberlanjutan dengan pemberdayaan perempuan marjinal merupakan contoh bagaimana bisnis dapat berperan sebagai agen perubahan positif. mereka membuktikan bahwa dapat mencapai keberlanjutan lingkungan sambil memberikan manfaat sosial yang signifikan kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama perempuan marjinal dan pengungsi. Yuk dukung inspirasi positif Liberty Society! untuk informasi lebih lengkap kunjungi website dan follow instagram mereka ya! Sumber : https://liberty-society.com/ https://www.youtube.com/@libertysociety6467
- Jalawelry by PURA: Dari Limbah Jaring Laut Menjadi Perhiasan Berkelanjutan yang Go International
Bagaimana sampah jaring ikan di Laut Jawa bisa menjelma jadi perhiasan cantik yang tampil di Paris Fashion Week? Ini kisah inspiratif Jalawelry by PURA! Ketika Limbah Laut Berubah Jadi Perhiasan Bernilai Tinggi Setiap tahun, ratusan ton jaring ikan bekas (ghost net) terdampar di pesisir Laut Jawa dan mengancam ekosistem laut. Ghost net ini nggak cuma mencemari lingkungan, tapi juga membahayakan kehidupan biota laut yang tersangkut di dalamnya. Tapi, bagaimana kalau limbah berbahaya ini justru bisa disulap jadi perhiasan cantik dan berkelanjutan? Itulah yang dilakukan oleh Parongpong RAW Lab melalui brand PURA , yang berkolaborasi dengan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) untuk menghadirkan solusi sirkular yang inovatif. Dari kolaborasi tersebut lahirlah PURA Jalawelry — koleksi perhiasan yang mengubah jaring laut bekas menjadi karya seni bernilai tinggi, sekaligus memberdayakan masyarakat pesisir. Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir: Dari Bank Sampah hingga Sumber Penghidupan Baru Jalawelry bukan cuma soal produk, tapi juga impact sosial yang nyata. Melalui program pemberdayaan di kawasan pesisir Kalibaru, Jakarta Utara, inisiatif ini melibatkan bank sampah dan kelompok nelayan dalam sistem pengumpulan ghost net yang terstruktur. Hasilnya? Nggak cuma membersihkan lingkungan laut, tapi juga menciptakan sumber penghidupan alternatif bagi masyarakat pesisir yang selama ini bergantung pada hasil laut. From Residual to Radiance: Filosofi di Balik Jalawelry Jalawelry menampilkan transformasi "from residual to radiance" — dari sisa yang terlupakan menjadi cahaya keindahan baru. Setiap perhiasan dirancang melalui pendekatan desain berkelanjutan dan teknologi bersih yang dikembangkan oleh Parongpong RAW Lab. Koleksi Jalawelry mencakup berbagai bentuk perhiasan mulai dari bros, kalung, cincin, gelang, anting , hingga hiasan rambut yang terinspirasi dari bentuk dan tekstur biota laut seperti Planula , Silia , Solea , dan Muscula . Desainnya merepresentasikan hubungan harmoni antara manusia dan laut, serta semangat regenerasi alam. Desainer Visioner di Balik Jalawelry Rendy Aditya Wachid, B.Arch., MBA — seorang Waste-to-Material Designer dan Circular Entrepreneur, memimpin inovasi di Parongpong RAW Lab. Melalui pendekatan desain sirkular dan teknologi bersih, ia memformulasikan ulang cara pandang terhadap "limbah yang mustahil diolah" menjadi material bernilai tinggi. Bersamanya, Widya Gustiana, Art Director dan Product Designer, menghadirkan visi artistik dalam koleksi Jalawelry. Terinspirasi dari bentuk karang dan flora laut, ia mengubah limbah jaring menjadi karya perhiasan yang bukan hanya menghiasi tubuh, tetapi juga menyampaikan pesan ekologis tentang ketahanan dan pembaruan. Go International: Jalawelry Tampil di Première Classe Paris Fashion Week 2025 Sebagai UKM binaan Pelindo, PURA mendapat kehormatan untuk menampilkan koleksi Jalawelry di ajang Première Classe Paris Fashion Week 2025 — panggung internasional bergengsi yang menjadi gerbang menuju pasar global bagi produk sirkular karya anak bangsa. Acara ini merupakan bagian dari program TALENT INDONESIA , sebuah akselerator mode yang diinisiasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris, bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan RI, L'Adresse Paris, dan didukung oleh DKI Jakarta serta Pelindo. Detail Acara: Tanggal: 3–6 Oktober 2025 Lokasi: Jardin des Tuileries, Terrasse des Feuillants – Rue de Rivoli, 75001 Paris Booth: Nomor 610 (Louvre Tent) Melalui platform internasional ini, PURA menampilkan desain berkelanjutan Indonesia, memadukan inovasi teknologi sirkular, keindahan seni, dan pemberdayaan komunitas pesisir. Keindahan Sejati Lahir dari Laut yang Pulih Melalui langkah ini, PURA, Parongpong RAW Lab, dan Pelindo membuktikan bahwa keindahan sejati lahir dari laut yang pulih — bahwa sampah laut dapat bertransformasi menjadi simbol harapan, estetika, dan nilai ekonomi baru bagi Indonesia dan dunia. Jalawelry bukan sekadar perhiasan. Ini adalah manifesto visual tentang bagaimana ekonomi sirkular bisa menciptakan dampak nyata: membersihkan laut, memberdayakan masyarakat, dan menghadirkan produk berkelanjutan yang kompetitif di pasar global. Keren banget kan, gengs! 🌊♻️💚 Ingin tahu lebih banyak tentang bisnis dan inisiatif berkelanjutan lainnya? Kunjungi Cleanomic.co.id dan ikuti perjalanan #cuanlestari kami!
- Ecoplease: Solusi Eco Packaging Dari Ampas Tebu
Kemasan jadi hal yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir seluruh benda di dunia ini disajikan atau dijual dalam berbagai bentuk kemasan, salah satunya adalah produk makanan. Sejak dahulu makanan-makanan tradisional sudah dikenal dengan kemasan seperti daun pisang, daun waru, daun pandan, besek (kotak makan dari bambu), cobek batu dan aneka cutleries berbahan kayu. Sekarang, kemasan-kemasan tersebut telah bertransformasi menjadi kemasan yang dianggap lebih efisien, murah, dan mudah ditemukan seperti kardus, plastik dan styrofoam. Kita begitu terbiasa dengan gaya hidup yang nyaman sehingga sering lupa untuk menghitung dampak yang ditimbulkan dari kemasan-kemasan tersebut terhadap lingkungan. Saat ini data menujukan sekitar 60,8 juta plastik diproduksi tiap tahun di Indonesia, dan hanya 10% diantaranya yang ter- recycle. Sementara sisanya di lenyapkan dengan cara dibakar atau menumpuk begitu saja di TPA bahkan mencemari sungai, laut dan danau. Berbeda dengan Ecoplease, mereka percaya bahwa kenyamanan (produk sekali pakai), seharusnya tidak mengorbankan lingkungan. Sejak 2020, Ecoplease melakukan penelitian dan eksperimen untuk menemukan alternatif ramah lingkungan terbaik untuk menggantikan produk kemasan sekali pakai. Yang kemudian menghasilkan produk kemasan makanan ramah lingkungan berbahan dasar ampas tebu dan serat bambu. Dengan material yang lebih renewable seperti limbah ampas tebu dari sisa pabrik gula dan serat bambu, yang keduanya memiliki pertumbuhan yang cepat dan berlimpah di Indonesia. Ecoplease ingin menyediakan poduk yang 100% compostable sehingga bisa terurai dalam waktu 90-180 hari tanpa melewati proses industrial composting, karena nyatanya tidak semua produk biodegradable dapat terurai sempurna tanpa fasilitas industrial composting. Proses produksi Ecoplease tidak menciptakan polusi air karena alami dan suhu pemrosesan dikontrol secara ketat di bawah 200° C untuk secara efektif memastikan emisi karbon rendah. Ampas tebu diolah menjadi lembaran bagasse yang kemudian dapat dicetak menjadi berbagai bentuk kemasan makanan tanpa lapisan plastik lining alis 100% bebas plastik! Tapi tenang aja, kemasan dari Ecoplease tidak akan meleleh dalam minuman panas maupun dingin karena tahan suhu dari -20° - 100° C, aman dimasukan ke freezer dan microwaveable. Kemasan dari Ecoplease juga telah tersertifikasi Rumah Kompos, TUV Rheiland OK, SGS, FDA, BPO Compostable. Saat ini ada sekitar 61 produk Ecoplease mulai dari take away box, cutleries, sedotan, piring, coffe cup dll yang produknya telah berpartner dengan banyak brand di Indonesia. Kalau kamu tertarik untuk mengubah bisnis kamu jadi lebih ramah lingkungan, kamu bisa hubungi Ecoplease melalui Website atau Instagram nya untuk custom produk sesuai kebutuhan packaging yang kamu mau. Atau bisa beli produknya via Tokopedia dan Shoppe ya!
- Kumparan Green Initiative Confrence 2024: Kontribusi Media untuk #CuanLestari
Cleanomic berpartisipasi di acara Kumparan Green Initiative Conference 2024! Acara yang berlangsung tanggal 24-25 September ini resmi dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Dengan mengangkat tema “Mendorong Keberlanjutan Melalui Kolaborasi Multi-Sektor: Solusi untuk Tantangan Lingkungan Indonesia", acara ini menjadi langkah Kumparan dalam mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih hijau. Yang menarik perhatian Minomic pada acara ini adalah lanyard ramah lingkungan! Ternyata Kumparan berpartner dengan Liberty Society, membuat inisiatif lanyard untuk peserta conference dari bahan-bahan daur ulang, seperti serat alami dan plastik daur ulang. Kumparan juga menggandeng Magalarva, sebagai Official Food Waste Management Partner untuk memastikan semua sampah makanan yang dihasilkan dari acara diolah secara berkelanjutan, menjadi sumber daya yang bermanfaat. Semua kantong sampah yang digunakan dalam acara ini juga terbuat dari bahan mudah terurai dan ramah lingkungan, yaitu cassava bag dari Cassaplast. Inovasi conference ramah lingkungan yang bisa jadi contoh kan?! Green Initiative Conference 2024 menghadirkan pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang, individu, komunitas, perusahaan, hingga pembuat kebijakan. Ini sebagai bentuk upaya Kumparan agar seluruh lapisan masyarakat dapat bekerja sama dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Kumparan juga meluncurkan kanal Green Initiative pada Agustus 2024 lalu, sebagai wadah untuk menyediakan informasi terkini mengenai upaya berbagai pihak untuk mendukung masa depan hijau Indonesia. Melalui pemberitaan dan kolaborasi multi-sektor, Kumparan berharap dapat membuka wawasan tentang gaya hidup berkelanjutan dengan jangkauan yang lebih luas. Informasi mengenai gerakan hijau itu bisa ditemukan di kanal Green Initiative yang dapat diakses melalui link berikut ya! kumparan.com/greeninitiative . Di hari kedua, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Bahlil Lahadalia membuka acara dengan keynote speech yang berisi dorongan bagi masyarakat untuk bersama membangun masa depan energi rendah emisi di Indonesia. Menurutnya untuk mendorong penggunaan energi terbarukan dibutuhkan komitmen yang kuat, konsep yang baik, sumber daya alam yang melimpah, dan regulasi yang mendukung. Cleanomic juga setuju dengan pernyataan beliau, bahwa benar saat ini media nasional memang perlu memiliki intelegensi untuk membuat perencanaan pada kebutuhan isu global yang ada. Dengan adanya acara ini, komitmen lestari Kumparan dapat menjadi percontohan sebagai media yang tidak hanya menyajikan data dan fakta tetapi juga menawarkan analisis yang relevan dengan kebutuhan global melalui pembahasan energi hijau, industri hijau, dan produk hijau yang menjadi isu global saat ini. Yuk dukung langkah Kumparan sebagai media lestari di Indonesia!











