top of page

Jejak Sawit, Deforestasi, dan Biodiesel

Landslide in rainforest, with excavators and flooded houses by a raging river. Dark clouds and heavy rain create a somber mood.

Kelapa Sawit, Deforestasi, Biodiesel, dan Tantangan Sustainability yang Tak Pernah Selesai


Dalam beberapa waktu terakhir, banjir bandang kembali melanda berbagai wilayah di Sumatra. Dampaknya tidak main-main: rumah rusak, akses terputus, lahan pertanian hancur, dan kehidupan masyarakat terguncang. Setiap kali bencana ini terjadi, pertanyaan yang sama kembali muncul: ini murni bencana alam, atau hasil dari akumulasi kebijakan dan praktik pembangunan yang keliru?


Isu ini bukan hal baru. Bahkan, Cleanomic sudah membahas benang merahnya di tahun 2021 — dan sayangnya, diskusi-diskusi itu kini terasa semakin relevan.


Kelapa Sawit dan Deforestasi: Isu Lama, Dampak Nyata


Kelapa sawit sering berada di persimpangan yang rumit. Di satu sisi, ia adalah tulang punggung ekonomi nasional, penyerap tenaga kerja, dan sumber devisa. Di sisi lain, ekspansi yang tidak terkendali, pembukaan lahan tanpa tata kelola yang baik, serta lemahnya pengawasan, berkontribusi pada deforestasi dan degradasi ekosistem.


Dalam podcast dan tulisan Cleanomic bersama Madani Berkelanjutan beberapa tahun lalu, isu ini sudah dibedah secara jujur: 👉 Kelapa Sawit yang Sustainable; Bisa Gak Sih? dan bisa kamu dengerin podcastnya disini:



Diskusi tersebut menegaskan bahwa masalahnya bukan pada sawit itu sendiri, melainkan pada bagaimana sawit dikembangkan. Ketika hutan alam dan daerah resapan air dikonversi, risiko banjir dan longsor meningkat drastis. Dan hari ini, Sumatra kembali membayar mahal harga dari praktik yang tidak berkelanjutan.


Biodiesel: Solusi Iklim atau Masalah Baru?


Program biodiesel—mulai dari B30 hingga B35—sering dipromosikan sebagai solusi transisi energi dan pengurang emisi. Namun pertanyaannya: apakah biodiesel benar-benar lebih ramah lingkungan jika hulu sawitnya masih bermasalah?


Cleanomic telah mengulas ini secara mendalam melalui beberapa diskusi dan artikel:



Intinya sederhana tapi krusial: bahan bakar terbarukan tidak otomatis berkelanjutan. Jika peningkatan permintaan biodiesel justru mendorong ekspansi sawit ke hutan dan lahan gambut, maka klaim hijau tersebut menjadi paradoks. Emisi boleh turun di hilir, tapi naik besar-besaran di hulu.


Sustainable Supply Chain: Ideal di Konsep, Berat di Lapangan


Isu keberlanjutan juga tidak berhenti di level kebijakan. Di lapangan, banyak brand lokal yang berjuang membangun rantai pasok berkelanjutan—menggunakan bahan baku lokal, memastikan praktik etis, dan meminimalkan dampak lingkungan.


Cleanomic pernah mengangkat langsung pengalaman ini lewat diskusi tentang ethical sourcing bersama pelaku usaha lokal. Ceritanya penuh suka dan duka: biaya lebih mahal, proses lebih panjang, edukasi konsumen yang belum selesai. Namun justru di sinilah terlihat bahwa sustainability bukan jargon, melainkan komitmen yang menuntut konsistensi.



Saatnya Mendengar Kembali, Bukan Sekadar Bereaksi


Banjir bandang di Sumatra seharusnya tidak hanya kita respon dengan bantuan darurat dan narasi “cuaca ekstrem”. Ini adalah alarm struktural—tentang tata kelola lahan, arah kebijakan energi, dan pilihan ekonomi yang kita ambil bersama.


Kalau kamu ingin memahami konteksnya lebih utuh, Cleanomic mengajak kamu untuk mendengarkan ulang podcast-podcast di atas yang membahas agar kita bisa lebih paham tentang isu:


  • sawit berkelanjutan,

  • biodiesel dan kebijakan energi,

  • hingga tantangan rantai pasok ramah lingkungan.


Diskusi-diskusi itu bukan nostalgia. Ia adalah pengingat bahwa banyak jawaban sebenarnya sudah ada — tinggal apakah kita mau benar-benar mendengarkan dan bertindak sebelum bencana berikutnya datang.

Komentar


©2025 by Cleanomic

bottom of page